TANYAFAKTA.CO, JAMBI — Upaya pemerintah memperkuat komoditas perkebunan berbasis hilirisasi mulai menemukan momentumnya di sektor gambir. PTPN IV PalmCo, subholding perkebunan PTPN III (Persero), menggandeng Universitas Andalas (Unand) untuk menyusun studi kelayakan pengembangan komoditas gambir nasional, sebuah langkah yang menandai keseriusan BUMN perkebunan itu masuk ke industri yang selama ini bertumpu pada petani rakyat.
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dilakukan di Kampus Universitas Andalas, Padang, pekan lalu. Kerja sama ini difokuskan pada penyusunan studi kelayakan bisnis gambir terintegrasi, mulai dari budidaya hingga pengolahan dan pasar.
Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen gambir terbesar dunia. Kementerian Pertanian mencatat, lebih dari 80 persen pasokan gambir global berasal dari Indonesia, dengan Sumatera Barat sebagai sentra utama. Kabupaten Lima Puluh Kota, Pesisir Selatan, dan Pasaman menjadi tulang punggung produksi nasional. Namun, besarnya potensi itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan nilai tambah yang dinikmati petani.
Sebagian besar gambir Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah dengan fluktuasi harga yang tajam. Padahal, gambir memiliki beragam turunan bernilai tinggi, mulai dari katekin untuk industri farmasi dan kosmetik, hingga bahan baku pangan, penyamakan kulit, dan pewarna alami.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan, masuknya PalmCo ke sektor gambir merupakan bagian dari kontribusi BUMN dalam mendukung arah kebijakan Kementerian Pertanian yang mendorong hilirisasi dan penguatan komoditas unggulan nasional.
“Pengembangan gambir ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat daya saing komoditas perkebunan melalui hilirisasi dan kemitraan berkelanjutan. Kami ingin hadir bukan hanya sebagai pelaku bisnis, tetapi sebagai katalis peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan petani,” ujar Jatmiko, Selasa (07/01/2026).
Menurut dia, PalmCo melihat gambir sebagai komoditas strategis baru yang potensial dikembangkan dengan pendekatan korporasi modern tanpa meninggalkan basis rakyat. Karena itu, perusahaan memilih memulai langkahnya dari fondasi ilmiah yang kuat melalui studi kelayakan bersama perguruan tinggi.
Direktur Sistem dan Sustainability PalmCo Ugun Untaryo menambahkan, studi kelayakan tersebut akan menjadi pijakan utama sebelum perusahaan mengambil keputusan investasi. Kajian akan mencakup aspek teknis, ekonomi, lingkungan, dan sosial secara menyeluruh.
“Kami ingin memastikan pengembangan gambir dilakukan secara terukur dan berkelanjutan, dari hulu hingga hilir. Ini penting agar investasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang,” kata Ugun.





Tinggalkan Balasan