Dalam rencana awal, studi ini akan mengkaji pembangunan pabrik pengolahan gambir serta pengembangan kebun plasma dengan potensi luasan hingga 50.000 hektare. Skema plasma diproyeksikan melibatkan petani rakyat sebagai bagian dari ekosistem bisnis terintegrasi.
Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan gambir menjadi krusial agar komoditas tradisional itu dapat dikelola secara modern dan berdaya saing.
“Universitas Andalas siap menghadirkan keahlian akademik dan riset terapan agar gambir tidak lagi diposisikan sebagai komoditas mentah, tetapi sebagai produk industri yang bernilai tinggi,” ujar Efa.
Wakil Rektor Unand Henmaidi menambahkan, kerja sama ini diharapkan memberi dampak ekonomi dan sosial langsung bagi masyarakat, khususnya petani gambir di Sumatera Barat.
PKS antara PalmCo dan Universitas Andalas berlaku hingga 31 Desember 2028. Ruang lingkupnya mencakup identifikasi pasar dan offtaker, kajian keseimbangan pasokan dan permintaan, pembangunan demplot varietas unggul, hingga penyusunan studi kelayakan bisnis berskala ekonomis.
Langkah PalmCo ini memperlihatkan perubahan pendekatan dalam pengelolaan komoditas perkebunan nasional. Jika selama ini gambir identik dengan usaha rakyat skala kecil, keterlibatan BUMN perkebunan membuka peluang konsolidasi, standardisasi mutu, serta penguatan industri hilir.
“Melalui sinergi dengan Universitas Andalas, kami optimistis gambir dapat tumbuh menjadi komoditas strategis baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat,” kata Jatmiko.
Bagi industri gambir nasional, kehadiran PalmCo bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan sinyal bahwa komoditas tradisional pun memiliki masa depan ketika dikelola dengan riset, inovasi, dan kemitraan yang tepat. (*)





Tinggalkan Balasan