Selain itu, tersedia fitur Muscle Avatar berbasis gamification yang memungkinkan pengguna memantau perkembangan kondisi fisik secara interaktif. Aplikasi ini juga terintegrasi dengan API SATUSEHAT milik Kementerian Kesehatan dan aplikasi SIPGAR sehingga data pengguna dapat tersinkronisasi dengan ekosistem kesehatan digital nasional.

Prestasi Adinda mendapat apresiasi dari dosen pembimbingnya, yakni Huntari Harahap dan Esa Indah Ayudia.

“M-POWER hadir sebagai solusi digital transformatif berbasis AI untuk menjawab urgensi pencegahan sarcopenia melalui deteksi dini dan pendampingan fungsional secara real-time. Kami berharap inovasi ini mampu memperluas akses pemeriksaan kesehatan sekaligus menurunkan tingkat ketergantungan fisik lansia di masa depan,” ujar dr. Huntari Harahap.

Adinda mengatakan, inovasi tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap kualitas hidup lansia. Menurutnya, sarcopenia sering dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan, padahal kondisi tersebut membutuhkan penanganan sejak dini agar tidak berkembang menjadi gangguan fisik yang lebih serius.

Baca juga:  Dasar Hukum Hibah Aset Daerah dalam Sistem Pemerintahan Indonesia

“Harapan saya, topik sarcopenia ini mendapatkan perhatian lebih luas di dunia kesehatan digital. Semoga pencapaian ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi isu kesehatan dan membawanya ke kompetisi nasional,” tuturnya. (*)