TANYAFAKTA.CO, KOTA JAMBI – Di benak banyak orang, kelapa sawit selama ini identik dengan minyak goreng. Namun di sebuah ruang pertemuan di Infinity Hotel Kota Jambi, anggapan itu perlahan dipatahkan. Buah sawit ternyata mampu menjelma menjadi aneka penganan, bahkan menjadi bolu yang memiliki cita rasa khas dan nilai ekonomi tinggi.

Temuan sekaligus inovasi tersebut menjadi fokus utama dalam Workshop dan Praktik Produksi Bolu serta Aneka Penganan Berbahan Dasar Sawit yang digelar oleh Elaeis Media Group (EMG) pada 9–10 Juni 2026.

Mengusung tema “Tumbuhkan Inovasi Baru, Ciptakan Aneka Penganan Berbahan Dasar Sawit sebagai Peluang Baru UMKM,” kegiatan ini berhasil menghimpun 50 pelaku usaha yang berasal dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Jambi.

Sejak sesi pembukaan dimulai, suasana ruangan tampak dipenuhi antusiasme. Para peserta menyimak dengan serius setiap materi yang disampaikan. Bahkan, tak sedikit yang larut dalam diskusi hingga nyaris lupa waktu.

Baca juga:  Semarak Hari Kartini, Karyawati Dealer Honda Tampil Anggun Berkebaya Layani Konsumen  

Sosok yang menjadi pusat perhatian hari itu adalah Iin Arlina (55), pemilik usaha Legan’s Sawit asal Kabupaten Muaro Bungo.

Nama yang telah dikenal luas sebagai pelopor pengembangan pangan berbahan dasar sawit tersebut hadir langsung untuk berbagi pengalaman dan ilmu kepada para peserta.

Di hadapan peserta, Iin mengisahkan bahwa lahirnya bolu sawit berawal dari keresahan sederhana. Ia melihat daerahnya, Kabupaten Bungo, belum memiliki penganan khas yang benar-benar dikenal masyarakat luas.

“Kemudian, didorong oleh Bapak Bupati Bungo, pada masa itu Mashuri bupatinya. Ia memiliki harapan akan adanya penganan khas Bungo,” ujarnya.

Dorongan itu membuat Iin mulai mencari berbagai inspirasi untuk menciptakan produk kuliner khas daerah. Beragam bahan dicoba dan diteliti hingga akhirnya sebuah pengamatan sederhana mengubah arah pencariannya.

Baca juga:  Ajak Masyarakat Lebih Dekat Dengan Sawit, EMG Group Gelar Pelatihan Konten Kreator dan Jurnalis di Kebun Sawit

Saat itu, ia memperhatikan ayam-ayam peliharaan yang dilepas di kebun sawit milik keluarganya. Ayam-ayam tersebut memakan brondolan sawit matang yang jatuh ke tanah dan tampak tumbuh lebih sehat dibanding biasanya.

“Dari situlah rasa penasaran muncul. Jika sawit dapat dikonsumsi hewan, mungkinkah juga diolah menjadi makanan yang aman dan bernilai bagi manusia?” kata Iin.

Berbekal rasa ingin tahu yang kuat, ia mulai melakukan berbagai eksperimen. Perjalanan tersebut tidak mudah. Berbagai percobaan harus dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, jemarinya beberapa kali terluka akibat duri tajam tandan sawit saat mencari formulasi yang tepat.

Namun kegigihan itu akhirnya membuahkan hasil.

Kini, Iin berhasil mengembangkan beragam produk pangan berbahan dasar sawit, mulai dari bolu sawit, keripik sawit, kue kering sawit, selai sawit, rendang sawit, hingga dodol sawit.

Baca juga:  Tepis Stigma Sawit Hanya Soal Minyak Goreng, Elaeis Media Group Bakal Gelar Workshop Bolu dari Sawit di Jambi

Produk andalannya, Bolu Sawit, menggunakan komposisi sekitar 30 persen sari pati sawit dan 70 persen bahan lainnya. Produk tersebut bahkan telah menjadi salah satu oleh-oleh khas Muaro Bungo yang cukup diminati masyarakat.

Untuk menjaga kualitas produknya, Iin menggunakan buah sawit varietas Tenera berkualitas premium sebagai bahan baku utama. Ia bahkan rela membeli tandan buah segar dengan harga lebih tinggi dibanding harga pasar.

“Saya punya mimpi agar semakin banyak masyarakat yang mampu mengolah sawit menjadi produk bernilai tambah. Semakin banyak produk pangan berbahan sawit yang diproduksi, maka semakin besar pula peluang peningkatan pendapatan petani sawit,” ucapnya.

Menurut Iin, sawit merupakan “harta karun” yang menyimpan potensi besar. Hampir seluruh bagian tanaman ini memiliki nilai ekonomi.