“Seperti halnya bijinya, khususnya daging sawit yang bisa diambil saripatinya untuk dijadikan bolu sawit,” ujarnya.
Selain mengandung Vitamin E, Vitamin A, dan antioksidan, bolu berbahan sari pati sawit juga memiliki daya tahan yang cukup lama. Dengan pengelolaan yang maksimal, produk tersebut mampu bertahan hingga enam bulan.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Elaeis Media Group, Abdul Aziz, menyoroti masih kuatnya stigma negatif terhadap industri sawit di sebagian masyarakat.
“Itu diakibatkan oleh berkembangnya isu soal sawit menyerap banyak air, merusak lingkungan, dan masih banyak lagi,” tuturnya.
Dalam pemaparannya, Aziz mengungkapkan bahwa luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 17,3 juta hektare dengan produksi sekitar 45 juta ton Crude Palm Oil (CPO) per tahun. Industri tersebut juga menyumbang devisa negara lebih dari Rp600 triliun.
“Malaysia dengan luas kebun 5 juta hektare saja bisa menghasilkan 15 juta ton CPO. Artinya, kita masih bisa meningkatkan produktivitas. Dan kalau bicara hilirisasi, produk kuliner berbahan sawit punya ceruk pasar yang sangat menarik,” tegasnya.
Menurut Aziz, sawit tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai ekologis yang tinggi. Ia mengutip penelitian Robert Hanson (1999) yang menyebutkan bahwa setiap hektare kebun sawit mampu menyerap 64,5 ton karbon dan menghasilkan 18,7 ton oksigen per tahun, lebih tinggi dibanding sejumlah tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
Workshop produksi bolu sawit yang digelar EMG ini merupakan pelaksanaan keempat setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Muaro Bungo, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Kegiatan tersebut secara konsisten mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP), yang merupakan Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Hero Suratman.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Semoga peserta dapat mengikuti dengan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya,” ungkap Hero saat membuka acara.
Dukungan serupa disampaikan Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, yang mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting.
Menurut Helmi, kampanye positif mengenai sawit harus terus digalakkan, namun tidak boleh berhenti pada sebatas narasi semata.
“Tetapi bukan hanya berakhir di kampanye, tetapi harus betul-betul bisa dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa BPDP terus mendorong hilirisasi dan inovasi produk berbasis sawit melalui berbagai penelitian yang telah menghasilkan banyak produk bernilai tambah.
“Kami memiliki banyak hasil penelitian berbasis sawit, mulai dari bahan untuk rompi antipeluru, helm, hingga berbagai produk konsumen. Sejumlah hasil riset tersebut telah dikomersialisasikan oleh UMKM. Di website BPDP juga terdapat katalog 100 UMKM berbasis produk turunan sawit yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat,” kata Helmi.
“Kami berharap peserta workshop ini dapat terinspirasi dan dalam beberapa tahun ke depan muncul pelaku usaha mengembangkan produk UMKM sawit hingga menembus pasar ekspor,” pungkasnya.
Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan diskusi panel yang berlangsung interaktif antara peserta dan para narasumber. Diskusi tersebut akan berlanjut pada hari kedua, Rabu (10/6/2026), dengan praktik langsung pembuatan bolu dari sari pati sawit.
Terselenggaranya kegiatan ini juga mendapat dukungan dari PTPN IV PalmCo, Politeknik Kampar, GAPKI, dan Astra Agro Lestari. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kasubag TJSL Regional IV Jambi, Sumarfin Purba, serta Ketua Bidang Ketenagakerjaan GAPKI Provinsi Jambi, R. Abidin. (*)





Tinggalkan Balasan