Oleh : Jorgi Pasaribu
TANYAFAKTA.CO –Â Tanah Klasen kembali dipromosikan sebagai kawasan strategis dan bernilai tinggi. Namun di balik itu, ada ironi yang mulai terasa: sejarah besar yang melekat pada wilayah ini perlahan kalah gaung dibanding kepentingan bisnis dan komersialisasi lahan.
Padahal, Tanah Klasen bukan sekadar hamparan tanah biasa. Kawasan ini menyimpan jejak penting perjuangan dan peradaban masyarakat Pakpak, termasuk keterkaitannya dengan perjalanan Si Singamangaraja XII. Nama-nama seperti Sionom Hudon, Goa Unte Hajoran, hingga Danau Sirintua bukan hanya titik geografis — tetapi simbol sejarah, pertahanan, dan identitas budaya.

Sayangnya, publik hari ini lebih sering mendengar angka, luas lahan, dan nilai investasi dibanding makna sejarah yang terkandung di dalamnya. Narasi besar tentang perjuangan leluhur perlahan tenggelam oleh promosi yang hanya menonjolkan sisi ekonominya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal Tanah Klasen sebagai objek transaksi, bukan lagi tanah yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah masyarakatnya sendiri.

Sejarah seharusnya tidak dipinggirkan demi kepentingan pasar. Sebab ketika identitas budaya mulai kalah oleh orientasi bisnis semata, yang hilang bukan hanya cerita masa lalu tetapi juga rasa hormat terhadap akar perjuangan yang membentuk daerah itu hari ini.
Tanah boleh diperjualbelikan. Tapi nilai sejarah dan marwah budaya jangan sampai ikut habis dipasarkan.





Tinggalkan Balasan