Oleh : Dr. Noviardi Ferzi
TANYAFAKTA.CO – Hari ini, Jumat 16 Januari 2026, nilai tukar dolar AS berada di kisaran Rp16.835 –Rp16.990 per dolar AS, tergantung bank atau money changer yang digunakan. Pelemahan nilai tukar rupiah yang bergerak mendekati level Rp 17.000 per dolar AS bukan lagi sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan cerminan tekanan struktural yang berpotensi memukul dunia usaha dan daya beli masyarakat secara langsung.
Dalam struktur ekonomi Indonesia saat ini, nilai tukar memiliki daya transmisi yang sangat kuat ke sektor riil karena sekitar 70 persen dari total impor nasional merupakan bahan baku dan penolong untuk industri.
Angka berdasarkan data BPS Agustus 2025 ini menunjukkan bahwa sebagian besar proses produksi manufaktur kita masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri, sehingga setiap depresiasi rupiah akan langsung diterjemahkan menjadi kenaikan biaya produksi bahkan sebelum produk tersebut sampai ke tangan konsumen.
Pengalaman negara-negara ASEAN memberikan gambaran serupa mengenai pola tekanan ini. Ketika mata uang melemah tajam, inflasi pangan dan biaya produksi cenderung melonjak, sebagaimana terjadi di Filipina pada periode 2023–2024. Sebaliknya, negara seperti Vietnam dan Thailand relatif mampu menjaga inflasi di kisaran 3 persen karena volatilitas kurs mereka lebih terkendali, yang akhirnya memberi ruang bagi dunia usaha untuk menyusun kontrak tanpa beban risiko kurs yang berlebihan. Hal ini menegaskan bahwa stabilitas nilai jauh lebih krusial bagi kepastian sektor riil dibandingkan sekadar angka nominal mata uang.





Tinggalkan Balasan