Oleh : Pantun Sianturi

TANYAFAKTA.CO Salah satu masalah terbesar dalam politik saat ini adalah hilangnya nurani dalam menjalankan kekuasaan. Politik yang seharusnya menjadi sarana untuk memperjuangkan kepentingan rakyat sering kali berubah menjadi ajang mencari keuntungan pribadi atau kelompok.

Akibatnya, demokrasi yang selama ini dibanggakan hanya terlihat baik di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kita sering melihat bagaimana para politisi datang dengan berbagai janji saat masa kampanye. Mereka berbicara tentang kesejahteraan rakyat, pendidikan yang lebih baik, dan pembangunan yang merata.

Namun, setelah mendapatkan jabatan, tidak sedikit yang justru melupakan janji tersebut. Bahkan, beberapa terlibat dalam kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Hal ini membuat masyarakat semakin kehilangan kepercayaan terhadap politik dan demokrasi.

Baca juga:  Keadilan Agraria di Jambi : Pelajaran dari Konflik Lubuk Mandarsyah dan PT. WKS

Hemat penulis, politik tanpa nurani juga terlihat ketika kepentingan rakyat dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Perdebatan politik sering kali lebih fokus pada siapa yang menang dan siapa yang kalah, bukan pada bagaimana menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat.

Padahal, tujuan utama politik seharusnya adalah menciptakan kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar mempertahankan posisi dan pengaruh.

Sebagai mahasiswa, penulis melihat bahwa generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita perlu memiliki kepedulian terhadap kondisi politik dan berani menyampaikan pendapat secara kritis.

Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada pemerintah atau para politisi, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat dalam mengawasi dan mengawal jalannya pemerintahan.

Baca juga:  Menata Ulang Demokrasi : Dari Kompleksitas Pemilu, Regulasi Beradaptasi, Menuju Harapan Perbaikan

Pada akhirnya, demokrasi tidak akan berarti apa-apa jika dijalankan tanpa hati nurani. Kekuasaan yang tidak disertai tanggung jawab moral hanya akan melahirkan ketidakadilan dan kekecewaan.

Oleh karena itu, penulis berharap politik dapat kembali pada tujuan utamanya, yaitu melayani rakyat dan memperjuangkan kepentingan bersama. Sebab, ketika politik kehilangan nurani, demokrasi pun kehilangan maknanya.

Berikut lanjutan yang bisa ditambahkan setelah paragraf terakhir agar opini terlihat lebih mendalam dan personal

Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial juga memberikan tantangan baru bagi demokrasi. Informasi politik saat ini dapat menyebar dengan sangat cepat, tetapi tidak semuanya mengandung kebenaran. Banyak masyarakat yang lebih mudah terpengaruh oleh isu-isu sensasional daripada memahami substansi suatu kebijakan.

Baca juga:  Ketergantungan Fiskal yang Dilembagakan

Akibatnya, ruang demokrasi sering dipenuhi perdebatan yang tidak sehat dan saling menjatuhkan. Dalam situasi seperti ini, nurani dan etika menjadi semakin penting agar politik tidak berubah menjadi alat manipulasi opini publik.

Di lingkungan kampus pun, nilai-nilai demokrasi perlu terus dijaga. Kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, diskusi yang sehat, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.