Oleh: Hafzi Al Fiqri 

TANYAFAKTA.CO – Bayangkan dua orang Indonesia duduk di kafe yang sama, memesan kopi yang sama, tetapi hidup dalam dua realitas yang sepenuhnya berbeda. Yang satu yakin presidennya adalah pahlawan pembangunan bangsa. Yang lain percaya negara sedang dijual kepada kekuatan asing. Keduanya tidak gila. Keduanya hanya telah menjadi korban dari sesuatu yang bernama algoritma.

Inilah wajah Indonesia selama Pemilihan Presiden 2019.

Saat Ponsel Menjadi Arena Perang

Pilpres 2019 bukan sekadar rematch antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Ia adalah pertarungan dua semesta informasi yang dikonstruksi, dipelihara, dan diperkuat oleh platform digital raksasa. Dengan 171 juta pengguna internet —hampir dua pertiga populasi Indonesia— Facebook, Twitter, WhatsApp, dan Instagram telah berevolusi dari media sosial biasa menjadi infrastruktur politik paling berpengaruh di negeri ini.

Yang terjadi di balik layar ponsel jauh lebih rumit dari yang tampak. Platform-platform itu tidak netral. Mereka dirancang dengan satu tujuan tunggal: membuat kita tetap terpaku pada layar selama mungkin. Dan cara paling efektif untuk melakukannya adalah dengan memancing emosi —terutama amarah dan ketakutan.

Baca juga:  Politik Indonesia: Dari Logika Mistika ke Logika Logistika

Mesin yang Memisahkan Kita

Eli Pariser, peneliti media digital, menyebutnya filter bubbles —gelembung filter: ekosistem informasi personal yang dikonstruksi secara otomatis oleh kecerdasan buatan. Setiap klik, setiap like, setiap detik yang kita habiskan menatap layar merekam preferensi kita. Algoritma kemudian menggunakan data itu untuk terus menyuapi kita dengan konten serupa, hingga terciptalah dunia di mana semua orang tampak sependapat dengan kita —dan pihak yang berbeda tampak sebagai ancaman moral.

Cass Sunstein menyebutnya echo chambers —ruang gema: ruang di mana suara kita bergema kembali dalam versi yang diperkuat dan divalidasi, sementara suara-suara yang berbeda secara sistematis tersaring keluar.

Selama Pilpres 2019, ini berarti: pemilih Jokowi hanya menerima berita tentang kesuksesan pembangunan. Pemilih Prabowo hanya disuguhi narasi kehancuran ekonomi dan ancaman dominasi asing. Keduanya bukan berbohong ketika mengklaim melihat realita yang berbeda. Mereka memang hidup dalam realita yang berbeda —yang dikonstruksi oleh algoritma.

Baca juga:  Lomba Ketangkasan Palang Merah (LKPM) ke-IX PMR tingkat Madya dan Wira se-Provinsi Jambi Resmi Di Tutup

Cebong, Kampret, dan Pabrik Kebencian

Pembelahan biner antara pendukung Jokowi (Cebong) dan pendukung Prabowo (Kampret) bukanlah fenomena organik. Ia adalah produk yang dipabrikasi. Penelitian Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) mengungkap mobilisasi ratusan akun robot (bots) dan buzzer berbayar dari kedua kubu untuk memanipulasi tren topik di Twitter dan Facebook secara terstruktur.

Hasilnya adalah apa yang para ilmuwan sebut polarisasi afektif: kondisi di mana perbedaan politik tidak lagi soal kebijakan, melainkan telah berubah menjadi kebencian emosional yang mendalam. Orang-orang bukan hanya tidak setuju dengan kubu lawan —mereka merendahkan, membenci, dan takut kepada mereka secara personal.

Ruang siber selama kampanye dipenuhi konten yang didesain untuk membakar emosi, bukan mencerahkan pikiran.

1.221 Kebohongan dan Satu Kebenaran Pahit

Data MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) mengungkap gambaran yang mengejutkan: sepanjang 2019, tercatat 1.221 hoaks bermuatan politik, dengan intensitas tertinggi tepat menjelang hari pemungutan suara. Ini bukan kebetulan —ini adalah bukti industri disinformasi yang tersistem.

Baca juga:  Pilkada Jambi 2024 : Tantangan Demokrasi Tanpa intrik dan Dinamika Politik Yang Memanas

Kubu Jokowi diserang dengan isu komunisme, antek asing, dan kriminalisasi ulama. Kubu Prabowo dihantam narasi radikalisme Islam dan ancaman penggantian Pancasila. Konten-konten itu dirancang dengan cermat untuk mengeksploitasi kerentanan psikologis terdalam masyarakat Indonesia: identitas agama dan nasionalisme.

Yang membuat hoaks begitu mematikan bukan ketidaktahuan pemilih. Mekanisme psikologis bernama bias konfirmasi yang bekerja: manusia secara naluriah mempercayai informasi yang memvalidasi kebencian yang sudah ada dalam dirinya. Hoaks tidak mengubah pikiran —ia membakar api yang sudah menyala.

Orang tidak menerima hoaks karena bodoh. Mereka menerimanya karena hoaks memberitahu mereka apa yang sudah ingin mereka dengar.

Ketika Layar Pecah, Jalanan Terbakar

Polarisasi digital tidak tinggal di dunia maya. Ia tumpah ke kehidupan nyata.

Survei SMRC pasca-pemilu mengungkap: lebih dari 45% pendukung masing-masing kubu merasa sangat tidak nyaman jika anggota keluarga mereka menikah dengan pendukung kubu lawan. Sekitar 38% enggan berbisnis atau bertetangga dekat dengan “musuh politik” mereka.