Menurut Noviardi, kekayaan sumber daya alam yang tersebar di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, dan provinsi lainnya harus diikuti dengan pembangunan konektivitas antardaerah. Infrastruktur transportasi, kawasan industri, pelabuhan, dan jaringan logistik menjadi faktor penting agar potensi ekonomi Sumatera dapat memberikan efek berganda yang lebih besar.
“Selama ini Sumatera kuat pada produksi bahan mentah. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menciptakan lebih banyak industri hilir sehingga keuntungan ekonomi tidak hanya berasal dari volume produksi, tetapi dari nilai tambah, teknologi, dan penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap komoditas global membuat perekonomian Sumatera tetap menghadapi risiko, termasuk fluktuasi harga dunia, perlambatan ekonomi internasional, serta ancaman bencana alam yang dapat mengganggu produksi dan distribusi.
Karena itu, lanjut Noviardi, kolaborasi antar pemerintah provinsi se-Sumatera menjadi kebutuhan strategis untuk membangun kawasan ekonomi yang saling terhubung. Langkah penguatan data ekonomi, sinkronisasi kebijakan investasi, serta pengembangan pusat-pusat industri baru akan menentukan kemampuan Sumatera meningkatkan kontribusinya terhadap ekonomi Indonesia.
“Dengan modal sumber daya alam yang besar dan posisi geografis yang strategis, Sumatera memiliki peluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Namun kunci keberhasilannya adalah transformasi dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis industri dan inovasi,” pungkasnya. (*)





Tinggalkan Balasan