“Rumah kakak dan orang tua saya retak. Genteng juga bergeser sehingga kalau hujan bocor. Kami menduga ini akibat aktivitas stokpile pasir yang lokasinya sangat dekat dengan rumah,” ujarnya.

Selain persoalan rumah, warga di sepanjang jalan menuju lokasi stokpile juga mengeluhkan debu yang beterbangan akibat lalu lintas kendaraan dan aktivitas operasional.

“Tiap hari kami makan debu. Debunya sampai masuk ke dalam rumah,” keluh Eri.

Syafri Minta Pemerintah dan Perusahaan Bertindak

Eri mengatakan, pada awal perusahaan beroperasi, jalan menuju lokasi stokpile masih rutin disiram untuk mengurangi debu. Namun, menurutnya, upaya tersebut kini sudah lama tidak dilakukan.

“Awal mula sering disiram. Sekarang tidak pernah lagi,” katanya.

Baca juga:  Anggota DPR RI Edi Purwanto Temui Menteri PU, Dorong Perbaikan 7 Jembatan Putus di Jambi

Berbagai keluhan, kata Eri, telah disampaikan kepada pemerintah desa. Namun hingga kini, warga mengaku belum melihat adanya penyelesaian maupun langkah konkret yang mampu mengurangi dampak aktivitas stokpile.

Syafri menegaskan, pemerintah dan perusahaan perlu segera duduk bersama mencari solusi. Ia meminta kepentingan ekonomi tidak berjalan dengan mengorbankan kenyamanan masyarakat sekitar.

Menurutnya, penyelesaian persoalan tersebut penting agar aktivitas usaha tetap berjalan, tetapi dampaknya terhadap warga dapat diminimalkan.