“Kami melihat komitmen Gubernur Pramono untuk menambah ruang terbuka hijau. Ini penting untuk mendukung kualitas lingkungan sekaligus menjadi salah satu solusi mengatasi banjir di Jakarta,” ucapnya.

Sementara itu, agenda keempat menyangkut masa depan status Jakarta sebagai ibu kota negara.

Miartiko mengatakan DPD PA GMNI Jakarta Raya akan mengusulkan pelaksanaan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPR RI guna membahas kemungkinan mengembalikan status Jakarta sebagai ibu kota negara.

Menurutnya, Jakarta memiliki nilai historis, politik, ekonomi, dan simbolik yang sangat penting bagi perjalanan bangsa sehingga kepastian statusnya perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan.

“Kami akan mengusulkan RDP dengan Komisi II DPR RI untuk membahas pengembalian Jakarta sebagai ibu kota. Kami memandang hal ini penting bagi masa depan Jakarta,” katanya.

Baca juga:  Peduli Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, Maulana-Diza Akan Tingkatkan Kompetensi Guru

Pada kesempatan tersebut, Miartiko juga mengajak seluruh kekuatan nasionalis untuk mengambil peran strategis menyongsong peringatan lima abad Kota Jakarta.

Ia menegaskan, momentum tersebut harus dimanfaatkan sebagai tonggak memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, dan keadilan sosial sebagaimana semangat Marhaenisme yang diwariskan Bung Karno.

“Menyambut lima abad Jakarta, kelompok nasionalis harus memiliki peran strategis dalam menjadikan Jakarta sebagai kota global. Semangat Marhaenisme harus terus diteguhkan sebagai kekuatan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat, khususnya di Jakarta,” tegasnya.

Simposium Nasional tersebut menghadirkan Ketua Umum DPP Persatuan Alumni GMNI, Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S., sebagai keynote speaker. Turut hadir Ketua Harian DPP PA GMNI Ir. Arudji Wahyono bersama para akademisi, tokoh nasional, dan alumni GMNI dari berbagai daerah.

Baca juga:  MK Ubah Ambang Batas Pencalonan Kepala Daerah

Adapun narasumber dalam simposium tersebut terdiri atas Prof. Dr. Asvi Warman Adam (Peneliti Senior BRIN), Prof. Dr. Drs. Ganjar Razuni, S.H., M.Si. (Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional), Dwi Rio Sambodo (Alumni GMNI sekaligus Anggota DPRD DKI Jakarta), serta Dr. Ade Reza Haryadi, M.Si. (Akademisi). Kehadiran para narasumber dari berbagai latar belakang tersebut memperkaya diskusi mengenai relevansi Marhaenisme dalam menjawab tantangan pembangunan nasional dan masa depan Jakarta.

Ketua Panitia Pelaksana, Rengganis, mengatakan simposium tidak hanya menjadi ruang refleksi atas perjalanan sejarah Partai Nasional Indonesia (PNI) dan pemikiran Bung Karno, tetapi juga menjadi forum strategis untuk memperkuat relevansi Marhaenisme dalam menjawab tantangan pembangunan nasional, khususnya bagi masa depan Jakarta sebagai kota global yang berkeadilan.

Baca juga:  Tolak Dinasti Politik, WALHI Jambi Gelar Aksi Unjuk Rasa

Ia menambahkan, penyelenggaraan simposium ini merupakan bagian dari rangkaian agenda menjelang pelantikan pengurus DPD PA GMNI Jakarta Raya, sekaligus menjadi momentum konsolidasi gagasan dan penguatan peran alumni GMNI dalam mengawal pembangunan Jakarta yang berdaulat, berkeadilan sosial, dan tetap berpihak kepada kepentingan rakyat. (*)