Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP

TANYAFAKTA.CO – Narasi yang menempatkan Pelabuhan Ujung Jabung sebagai satu-satunya penentu masa depan daya saing Jambi perlu dibaca secara proporsional dalam kerangka pembangunan daerah yang kompleks dan multidimensional.

Reduksi persoalan pembangunan menjadi satu proyek infrastruktur berisiko melahirkan kesimpulan yang tidak utuh terhadap realitas kebijakan publik.

Pelabuhan Ujung Jabung memang merupakan infrastruktur strategis dalam agenda penguatan konektivitas dan logistik Provinsi Jambi. Namun, menjadikan lambatnya pengembangannya sebagai ukuran tunggal keberhasilan atau kegagalan visi “Jambi Mantap Berdaya Saing dan Berkelanjutan” mencerminkan kekeliruan logika single factor fallacy, yakni kecenderungan dalam kajian kebijakan publik untuk menjelaskan persoalan kompleks melalui satu variabel dominan.

Baca juga:  Kriminalisasi Aktivis KontraS Bukan Sekedar Serangan, Melainkan Ancaman Bagi Demokrasi

Dalam kajian pembangunan wilayah, daya saing daerah tidak ditentukan oleh satu infrastruktur, melainkan oleh interaksi berbagai faktor seperti kualitas sumber daya manusia, produktivitas ekonomi, tata kelola pemerintahan, investasi, inovasi dan konektivitas wilayah. Dalam perspektif Michael Porter tentang competitive advantage, produktivitas dan kualitas institusi menjadi fondasi utama daya saing, sementara infrastruktur berfungsi sebagai enabler, bukan penentu tunggal.

Jika logika tunggal tersebut digunakan, maka daerah tanpa pelabuhan laut besar akan otomatis dianggap tidak berdaya saing. Faktanya tidak demikian. Bandung bertumpu pada pendidikan dan industri kreatif, Yogyakarta pada kualitas sumber daya manusia dan ekonomi budaya, sementara Surakarta berkembang melalui UMKM, perdagangan dan jasa. Ini menunjukkan bahwa daya saing bersifat multidimensional, bukan deterministik-infrastruktural.

Baca juga:  UIN STS Jambi Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Dukung Kampus Inklusif

Pandangan tersebut juga mengandung false dilemma, yakni seolah hanya terdapat dua pilihan, membangun pelabuhan atau gagal menjadi daerah berdaya saing. Padahal, peningkatan daya saing dapat ditempuh melalui pendidikan, kesehatan, digitalisasi layanan publik, pembangunan infrastruktur dasar, penguatan UMKM, hilirisasi komoditas, reformasi birokrasi, hingga peningkatan investasi.

Secara regional di Jambi, data Badan Pusat Statistik menunjukkan perekonomian daerah tetap tumbuh sebesar 4,51 persen pada 2024 dengan PDRB sekitar Rp. 322,98 triliun. IPM juga meningkat menjadi 74,36, sementara tingkat pengangguran terbuka tercatat 4,48 persen dan angka kemiskinan 7,19 persen pada 2025.

Capaian ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dan pembangunan manusia tetap berlangsung, tidak bergantung pada satu proyek infrastruktur tertentu.

Baca juga:  Sensitif Pengibaran Bendera One Piece, Boleh Atau Tidak Secara Hukum di Indonesia

Dari sisi perdagangan, nilai ekspor Jambi pada Mei 2025 mencapai sekitar US$.249,34 juta, didominasi komoditas berbasis sumber daya alam seperti kelapa sawit, karet dan pinang. Ini menegaskan bahwa integrasi Jambi ke pasar global tetap berjalan meski Pelabuhan Ujung Jabung belum berfungsi sebagai pelabuhan internasional utama.

Yang lebih penting bukan sekadar besaran ekspor, melainkan kemampuan menciptakan nilai tambah. Dalam perspektif pembangunan ekonomi modern, daya saing ditentukan oleh kapasitas produksi, hilirisasi dan kualitas rantai nilai, bukan semata keberadaan pelabuhan. Infrastruktur hanya memperlancar arus barang, bukan menciptakan barang itu sendiri