Lirik awal lagu ditulis bersama Dadang Juliantara karena John mengaku kurang percaya diri merangkai kata-kata. Lirik tersebut kemudian direvisi beberapa kali oleh rekan-rekannya, termasuk aktivis yang kini dikenal sebagai politikus, Budiman Sudjatmiko, yang mengusulkan perubahan kata “Tuhan” menjadi “Bunda” agar lebih menyentuh.

Awalnya lagu tersebut tidak memiliki judul. Nama “Darah Juang” baru disepakati setelah diskusi panjang dalam kongres FKMY di Muntilan. John sendiri tidak pernah menyangka lagunya akan menjadi anthem gerakan Reformasi 1998. Ia baru mengetahui lagu tersebut dinyanyikan ribuan mahasiswa saat pendudukan gedung DPR/MPR menjelang jatuhnya Presiden Soeharto.

“Ya kalau dia dijatuhkan dengan laguku itu ya, bagus,” katanya suatu waktu sambil tertawa.

Baca juga:  Ketua GOW Kota Jambi Nadiyah Dukung Gerakan 1.000 Profesi Perempuan di  HKN 2025

Sepanjang hidupnya, John disebut menciptakan ratusan lagu dengan berbagai sumber menyebut antara lebih dari 200 hingga 600 judul terutama pada periode 1987–1992. Ia tidak bisa membaca not balok, namun melodi disebut terus mengalir dalam pikirannya setiap hari. Karyanya mencakup lagu anak-anak, pop, rock, balada cinta, hingga lagu perjuangan seperti “Satu Kata”, “Doa”, “O Rai Timor”, dan “Fajar Merah Esok Milikmu”.

Karier dan Kehidupan Pribadi

Setelah lulus dari Filsafat UGM sekitar 1994, John sempat bekerja di lembaga swadaya masyarakat, media Pers Batak, hingga menjalankan usaha furnitur selama tujuh tahun di Pekanbaru. Ia juga pernah aktif di dunia politik sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Riau dan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Riau pada 2009, namun gagal karena menolak praktik politik uang.

Baca juga:  Prabowo Kunjungan ke Luar Negeri, Gibran Ditunjuk Sebagai Plt Presiden RI

Pada 2010, ia kembali ke Yogyakarta dan menjalani kehidupan sederhana di kawasan Kalasan/Minomartani, Ngaglik, Sleman bersama istrinya, Dona, serta tiga anak mereka.

Kondisi kesehatannya mulai menurun sejak mengalami stroke ringan pada 2007, yang kemudian berlanjut menjadi stroke berat. Selain itu, penglihatannya juga terganggu akibat kerusakan saraf optik dalam sembilan tahun terakhir. Meski demikian, John tetap menunjukkan sikap optimistis terhadap hidupnya.

“Ya berarti sebelum saya mati saya masih bisa melihat kan dok?” ujarnya kepada dokter.

Warisan untuk Generasi Muda

John Tobing tidak pernah memperoleh kekayaan besar dari karya-karyanya. Ia kerap menyebut dirinya sebagai aktivis dan pejuang, bukan sekadar pencipta lagu. Baginya, musik adalah media untuk menyuarakan keresahan sosial terhadap ketimpangan dan kondisi bangsa.

Baca juga:  Presiden Prabowo Tegaskan Kemandirian Bangsa Dimulai dari Pendidikan Berkelas Dunia

Ia juga kerap berpesan kepada generasi muda agar melakukan perubahan positif.

“Mari kita sama-sama berubah… tidak korupsi, malu kalau salah, berbuat yang selalu baik,” pesannya.

Hingga akhir hayatnya, lagu-lagunya terus dinyanyikan dalam berbagai aksi mahasiswa, peringatan Hari Buruh, hingga demonstrasi sosial di berbagai daerah. Dunia pergerakan Yogyakarta dan Indonesia pun kehilangan salah satu maestro perjuangan. Kepergiannya meninggalkan warisan semangat yang diyakini tidak akan pernah padam. (*)