“Mereka termotivasi karena melihat kakak kelasnya sudah berhasil kuliah, sehingga muncul kepercayaan diri untuk mengikuti jejak tersebut,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ika mengungkapkan bahwa pendampingan terhadap siswa disabilitas telah dilakukan selama sekitar enam tahun, termasuk dalam pelaksanaan UTBK di berbagai perguruan tinggi.
“Pendampingan mencakup aspek aksesibilitas, kesiapan mental, hingga keterlibatan orang tua agar siswa lebih siap menghadapi dunia perkuliahan,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi kesiapan UNJA dalam menyediakan fasilitas yang dinilai sudah memadai, mulai dari ruang ujian khusus, pendampingan selama ujian, hingga perangkat pendukung bagi peserta tunanetra.
“Fasilitas yang diberikan UNJA sudah sangat baik dan mampu mendukung kebutuhan siswa disabilitas selama pelaksanaan UTBK,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Ika memberikan pesan motivasi kepada siswa penyandang disabilitas agar tidak ragu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Jangan ragu dan jangan takut untuk kuliah, karena semua memiliki hak yang sama. Kesempatan itu ada, tinggal bagaimana kita berani untuk mencoba,” tuturnya.
Pelaksanaan UTBK yang ramah disabilitas ini menjadi bukti nyata komitmen UNJA dalam mewujudkan pendidikan inklusif, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk mengakses pendidikan tinggi dan meraih masa depan yang lebih baik. (*)





Tinggalkan Balasan