Oleh: Bayu Sasongko,
TANYAFAKTA.CO – Tidak pernah dalam sejarah manusia memiliki akses informasi sebesar hari ini. Pengetahuan beredar tanpa batas, teknologi memperpendek jarak, dan komunikasi berlangsung dalam hitungan detik. Namun, di tengah kelimpahan informasi itu, muncul sebuah paradoks: manusia semakin kaya data, tetapi tidak selalu semakin bijaksana.
Gejala tersebut tampak dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari polarisasi politik, perang informasi, rivalitas geopolitik, hingga cara kita membaca sejarah. Tokoh-tokoh besar kerap diposisikan secara hitam-putih: dipuja tanpa kritik atau diperdebatkan tanpa konteks. Akibatnya, sejarah lebih sering menjadi arena pembenaran ideologis daripada ruang untuk memahami proses lahirnya gagasan.
Perdebatan mengenai hubungan Tan Malaka dan Soekarno merupakan salah satu contohnya. Tidak sedikit pandangan yang menempatkan Tan Malaka sebagai sumber utama pemikiran Soekarno. Sebaliknya, ada pula yang mengecilkan peran Tan Malaka demi menegaskan orisinalitas Bung Karno.
Kedua pandangan tersebut sama-sama berisiko menyederhanakan perjalanan intelektual dua tokoh yang sesungguhnya berkembang melalui pengalaman, pergulatan, dan pilihan sejarah yang berbeda.
Tidak dapat disangkal bahwa Tan Malaka merupakan salah satu pemikir revolusioner paling penting dalam sejarah Indonesia. Pemikirannya mengenai kolonialisme, revolusi, dan republik memberikan kontribusi besar terhadap wacana kemerdekaan.
Namun, menyimpulkan bahwa Soekarno secara langsung dibentuk oleh Tan Malaka juga memerlukan kehati-hatian. Gagasan republik, sosialisme, maupun anti-imperialisme pada awal abad ke-20 merupakan bagian dari arus besar pemikiran dunia yang direspons oleh banyak tokoh nasional di berbagai negara.
Perbedaan keduanya justru menjadi menarik ketika ditinjau dari fondasi ideologinya. Tan Malaka menggunakan perangkat analisis yang berkembang dalam tradisi sosialisme dan Marxisme Eropa untuk membaca realitas kolonial. Soekarno, sebaliknya, berusaha mengolah berbagai pemikiran tersebut ke dalam suatu sintesis yang berangkat dari pengalaman sosial, sejarah, dan kebudayaan Indonesia.
Proses sintesis inilah yang melahirkan Marhaenisme. Marhaenisme tidak dapat dipahami sekadar sebagai adaptasi sosialisme, melainkan sebagai upaya merumuskan jalan Indonesia sendiri. Sosok Marhaen menjadi simbol rakyat kecil Indonesia, petani, buruh, nelayan, pedagang, dan kaum tertindas, yang dijadikan titik tolak dalam membangun gagasan keadilan sosial. Dalam kerangka ini, Soekarno berusaha memadukan nilai-nilai universal tentang pembebasan dengan pengalaman historis bangsa Indonesia.





Tinggalkan Balasan