“Temuan ini bukan sekadar persoalan kayu hanyut. Gelondongan kayu yang terbawa arus berpotensi menyumbat aliran sungai, merusak infrastruktur jembatan, serta mengancam keselamatan warga. Ini merupakan alarm bahwa ekosistem penyangga di wilayah hulu sedang mengalami tekanan,” tegasnya.
Merespons situasi tersebut, Desk Disaster WALHI Region Jambi bersama WALHI Jambi mendesak sejumlah langkah, yakni:
1. Pemerintah Kabupaten Sarolangun, Pemerintah Provinsi Jambi, dan aparat penegak hukum melakukan investigasi menyeluruh terkait asal-usul gelondongan kayu di Sungai Batang Asai.
2. Penanganan darurat yang cepat dan memadai bagi warga terdampak, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, dan distribusi logistik.
3. Pemulihan ekologis DAS Batang Asai melalui rehabilitasi hutan serta perlindungan kawasan tangkapan air.
4. Penyusunan sistem mitigasi bencana berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam perlindungan wilayahnya.
WALHI menegaskan, bencana ekologis seperti ini akan terus berulang jika tata kelola sumber daya alam masih mengabaikan daya dukung lingkungan dan keselamatan masyarakat.
“Desk Disaster WALHI Region Jambi dan WALHI Jambi menyatakan solidaritas penuh kepada masyarakat terdampak banjir di Batang Asai, Limun, Bathin VIII, dan wilayah lainnya. Keselamatan warga harus menjadi prioritas, serta pemulihan lingkungan harus dijalankan secara serius dan berkeadilan,” pungkasnya. (*)





Tinggalkan Balasan