Buku pertama berukuran kecil dan tipis itu banyak menginspirasi Bung Karno dalam mengatur irama pergerakannya melawan kolonial Belanda.
Pada Juni 1943, Bung Karno sebetulnya sudah pernah bertemu Tan Malaka di wilayah Bayah, Banten. Namun ia tak tahu kalau laki-laki yang mengaku bernama Ilyas Hussein dan sempat berdebat keras dengannya itu adalah Tan Malaka.
Dalam autobiografinya ‘Dari Penjara ke Penjara’, Tan yang tetap dalam penyamarannya mengaku senang bisa bertemu Bung Karno dan Bung Hatta. Hingga suatu hari di bulan September 1945, Bung Karno mendengar kabar Tan sedang berada di Jakarta.
Bung Karno lantas menugasi sekertaris pribadinya, Sajoeti Melik untuk mencari tahu keberadaan Tan dan mengatur pertemuan dengannya,” demikian yang tertulis dalam buku “Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno” (2016).
Melalui Ahmad Soebardjo, kabar keberadaan Tan Malaka di Jakarta dapat dipastikan kebenarannya. Hanya kepada Soebardjo yang merupakan teman sekolah di Belanda, Tan Malaka bersedia membuka identitasnya.
Singkat cerita, mereka pun bertemu. Harry A. Poeze dalam “Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (2018)’ menyebut pertemuan antara Bung Karno dengan Tan Malaka yang dilakukan secara diam-diam tersebut berlangsung pada 9 September 1945 di rumah dokter Soeharto Sastrosoeyoso, dokter pribadi Bung Karno yang bertempat tinggal di Jalan Kramat Raya No.82 Jakarta.
Bagi Bung Karno, pertemuan itu sangat bermakna. Karenanya, saat berhadap-hadapan langsung, Bung Karno memanfaatkan kesempatan untuk menanyakan sejumlah pemikiran Tan Malaka, terutama isi dari buku ‘Aksi Massa’.
Semua pertanyaan dijawab Tan dengan lugas. Dalam percakapan itu Tan Malaka banyak menjelaskan soal strategi dan prospek revolusi Indonesia. Tan memberi saran tiga hal yang itu membuat Bung Karno semakin mengagumi pemikiran pendiri Partai Murba tersebut.
Pertama, pemerintahan RI hendaknya dipindahkan ke pedalaman. Kedua, orang-orang Belanda dan Inggris yang ada di Indonesia segera dipulangkan, dan ketiga menjadikan Jakarta sebagai medan pertempuran melawan pasukan Sekutu yang telah memenangkan Perang Dunia II.
Bung Karno sempat mempersoalkan alasan usulan Jakarta menjadi medan pertempuran. Sebab sebelumnya ia banyak menerima saran yang isinya justru Jakarta hendaknya disterilkan dari pertempuran.
Alhasil, Bung Karno mendapat penjelasan yang membuatnya semakin kagum dengan pemikiran Tan Malaka.
Sangkin terpesonanya, Bung Karno bahkan membuat satu testamen politik sekitar Oktober 1945 yang menyatakan bahwa apabila dirinya dan Mohammad Hatta tidak lagi mampu memimpin perjuangan, maka kepemimpinan revolusi dapat diserahkan kepada Tan Malaka yang disebutnya sebagai “seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner”.
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa tinggi penghargaan Bung Karno terhadap Tan Malaka.
Sebaliknya, Tan Malaka sendiri menganggap kepercayaan itu sebagai bentuk penghormatan dan bukti adanya “ikatan jiwa dan paham” antara dirinya dengan Bung Karno, meskipun keduanya sering berbeda pandangan politik.
Mereka memang berdebat mengenai strategi revolusi. Tan Malaka cenderung menolak kompromi dengan kekuatan kolonial dan menginginkan revolusi yang lebih radikal.
Sementara Bung Karno lebih realistis dalam membaca konfigurasi kekuatan politik dan internasional. Namun perbedaan strategi tidak pernah menghapus saling penghormatan intelektual di antara keduanya.
Mengapa Tan Malaka Dibunuh?
Ironisnya, tokoh yang begitu dihormati Bung Karno justru meninggal secara tragis. Tanpa pengadilan, Tan Malaka tewas ditembak oleh tentara Republik Indonesia pada 21 Februari 1949 di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, setelah disebut terlibat dalam Peristiwa Madiun 1948.
Hemat penulis, eksekusi tak terelakkan tersebut terjadi di tengah situasi perang dan konflik politik yang sangat kompleks setelah Agresi Militer Belanda II.
Untuk menghormati jasa Tan Malaka yang begitu besar, pada 23 Maret 1963, Sukarno menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 53 Tahun 1963. Usulannya datang dari Partai Murba yang didirikan Tan Malaka tahun 1948, dalam peringatan ke-16 menghilangnya Tan Malaka pada Februari 1963.
Bung Karno juga mengakui bahwa Tan Malaka adalah salah satu guru politiknya yang memberinya banyak inspirasi dan pengaruh.
Kematian Tan Malaka kemudian menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah republik. Ia dibunuh bukan oleh Belanda, melainkan oleh sesama anak bangsa di tengah kekacauan revolusi.
Namun tragedi itu tidak dapat dijadikan dasar untuk membenturkan Tan Malaka dengan Bung Karno secara hitam-putih. Hubungan keduanya tidak dibangun di atas kebencian personal, melainkan di atas persamaan cita-cita mengenai kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
FOMO Tan Malaka dan Reduksi Peran Bung Karno
Fenomena FOMO Tan Malaka dan desukarnoisasi di era media sosial sesungguhnya memperlihatkan satu masalah mendasar yaitu generasi sekarang sering kali mengenal sejarah melalui potongan-potongan algoritma dan tidak melakukan verifikasi dan pendalaman melalui buku-buku dan sumber sejarah otentik lainnya.
Padahal, sejarah Indonesia tidak dibangun oleh tokoh-tokoh yang sempurna. Bung Karno mempunyai kelemahan dan melakukan berbagai kesalahan politik. Tan Malaka juga bukan manusia tanpa cela. Akan tetapi, keduanya adalah tokoh besar yang mengorbankan hidupnya untuk cita-cita Indonesia merdeka.
Karena itu, mengagumi Tan Malaka tidak mengharuskan seseorang membenci Bung Karno. Sebaliknya, menghormati Bung Karno tidak menuntut pengabaian terhadap pemikiran Tan Malaka.
Sejarah justru menunjukkan bahwa Bung Karno sendiri mengagumi Tan Malaka. Ia mempercayainya sebagai sosok revolusioner yang mampu melanjutkan perjuangan republik apabila dirinya tidak lagi sanggup memimpin. Fakta ini semestinya menjadi pelajaran penting bagi generasi hari ini.
Jika dua Bung Karno dan Tan Malaka yang berbeda pemikiran strategi,taktik,dan politik saja masih dapat saling menghormati, mengapa generasi media sosial justru sibuk mempertentangkan keduanya?
Barangkali, tantangan terbesar bangsa ini bukanlah kurangnya akses terhadap sejarah. Tantangan terbesar kita adalah keberanian untuk membaca sejarah secara utuh, melampaui sensasi algoritma, dan memahami bahwa republik ini dibangun oleh banyak pemikiran besar yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan.





Tinggalkan Balasan