Oleh : Ade Hary Purnama Silitonga

TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Di tengah keberagaman suku dan budaya yang hidup di Provinsi Jambi, sejarah mencatat satu nama yang tak boleh dilupakan, yakni Djamaluddin Tambunan. Sosok berdarah Batak ini pernah dipercaya menjadi Gubernur Jambi pada periode 1974–1979. Fakta sejarah tersebut menjadi bukti bahwa sejak dahulu Jambi telah membuka ruang bagi siapa pun yang memiliki kapasitas untuk mengabdi, tanpa memandang latar belakang etnis.

Djamaluddin Tambunan bukanlah pejabat yang lahir dari proses instan. Sebelum memimpin Jambi, ia telah menghabiskan puluhan tahun berkarier di birokrasi pemerintahan.

Ia pernah menjadi Wedana Tanjung Balai, Patih Asahan, Bupati Asahan, Bupati Labuhanbatu, Wali Kota Pematang Siantar, Bupati Simalungun, Gubernur Muda Sumatera Utara, hingga Sekretaris Wilayah Daerah Sumatera Utara. Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa ketika dipercaya memimpin Jambi, ia telah memiliki pengalaman administrasi dan kepemimpinan yang panjang.

Baca juga:  Pisah Sambut Kapolda Jambi: Krisno Halomoan Siregar Siap Lanjutkan Capaian Rusdi Hartono

Selama menjabat sebagai Gubernur Jambi, Djamaluddin Tambunan mendorong berbagai langkah pembangunan. Di antaranya pemindahan ibu kota Kabupaten Batanghari ke Muara Bulian, penghapusan sejumlah pungutan daerah terhadap komoditas ekspor, serta pembenahan tata kelola sektor kehutanan.

Menjelang akhir masa jabatannya, ia bahkan menulis buku Jambi Yang Menanti Jamahan, sebuah dokumentasi mengenai kondisi dan pembangunan Jambi selama masa kepemimpinannya. Tradisi seorang kepala daerah menulis buku tentang pemerintahannya merupakan sesuatu yang relatif jarang pada masa itu.