Kehadiran Djamaluddin Tambunan di Jambi juga mencerminkan semangat masyarakat Batak dalam dunia birokrasi. Budaya yang menempatkan pendidikan, disiplin, dan kerja keras sebagai nilai utama telah melahirkan banyak aparatur negara yang mengabdi di berbagai daerah, termasuk Jambi. Namun yang lebih penting, keberhasilan mereka tidak lahir karena identitas suku, melainkan karena kompetensi dan dedikasi.
Sejarah Djamaluddin Tambunan memberikan pelajaran bahwa Jambi sejak lama memiliki tradisi pemerintahan yang menghargai kapasitas. Kepercayaan untuk memimpin provinsi ini pernah diberikan kepada seorang putra Batak karena rekam jejak dan kemampuannya sebagai birokrat.
Hal itu menunjukkan bahwa dalam pemerintahan, ukuran utama semestinya bukan asal-usul, melainkan integritas, pengalaman, dan kemampuan menjalankan amanah publik.
Di tengah masyarakat Jambi yang majemuk, kisah Djamaluddin Tambunan menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan. Orang Batak telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Provinsi Jambi, berdampingan dengan masyarakat Melayu dan berbagai suku lainnya dalam membangun daerah.
Rekam jejak tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian kepada Jambi tidak mengenal batas etnis, melainkan ditentukan oleh kualitas pengabdian kepada masyarakat.
Sejarah telah membuktikan bahwa Jambi bukan hanya milik satu suku atau golongan, melainkan rumah bersama bagi setiap anak bangsa yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengabdi. Warisan kepemimpinan Djamaluddin Tambunan menjadi salah satu bukti bahwa meritokrasi pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan pemerintahan Provinsi Jambi.





Tinggalkan Balasan