“Jadi mereka bisa pakai aplikasi itu langsung dari Android, tidak perlu lagi pakai kertas yang gampang hilang. Aplikasi itu benar-benar dipakai langsung oleh masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, aplikasi tersebut sebenarnya merupakan hasil penelitian salah satu dosen di lingkungan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UNJA yang telah digunakan sebelumnya, namun baru mendapat momentum tepat saat diterapkan dalam program pemulihan bencana ini.

Bagi Dr. Fitriyanti , penghargaan ini adalah hasil kerja kolektif seluruh anggota tim, termasuk sekitar 20 mahasiswa yang terlibat langsung di lapangan. Ia berpesan agar semangat serupa terus dijaga pada program-program pengabdian UNJA selanjutnya.

“Yang turun ke lapangan itu harus benar-benar mahasiswa dan dosen yang mau terjun, bukan yang datang asal hadir. Programnya juga harus tepat sasaran, sesuai kebutuhan nyata di lapangan,” tegasnya.

Baca juga:  JISIP UNJA Gelar Diskusi Publik Bahas Peran Negara, Fintech, dan Masyarakat Digital

Ia mencontohkan, selama 20 hari di Batu Busuk, tim tidak hanya menunggu warga datang berobat, tetapi mendatangi langsung rumah-rumah warga lanjut usia yang tidak bisa bepergian. Pendekatan itu menurutnya membuat dampak program terasa nyata bagi masyarakat.

Capaian dua Golden Winner ini menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dan dosen UNJA dalam menghadirkan solusi berdampak langsung bagi masyarakat terdampak bencana.

Dr. Fitriyanti berharap prestasi ini dapat memacu fakultas dan program studi lain di UNJA untuk turut ambil bagian pada Program Mahasiswa Berdampak batch selanjutnya yang kembali dibuka Kemdiktisaintek, sekaligus mendorong pemanfaatan inovasi seperti Smart Stunting Detection System secara lebih luas pada program pengabdian masyarakat di masa mendatang. (*)

Baca juga:  Safari Ramadan Pertama, UNJA Hadir di Masjid Jami’ Al-Jadid Perkuat Kampus Berdampak