Salah satu hal yang menjadi perhatian rombongan UNJA adalah keberhasilan UNP mengembangkan berbagai unit usaha sebagai sumber pendapatan mandiri. Di antaranya pengelolaan UNP Hotel & Convention Center yang memiliki 120 kamar, fasilitas olahraga, hingga sistem kantin digital UNP Lapau yang terintegrasi dalam satu rekening universitas.

Menurut Prof. Syamsurijal, pengembangan unit usaha tersebut menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi membangun kemandirian melalui optimalisasi seluruh potensi yang dimiliki.

“Filosofinya adalah dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Seluruh sivitas akademika diharapkan berbelanja di lingkungan kampus sendiri agar perputaran ekonomi tetap berada di dalam ekosistem universitas,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan menuju PTN-BH tidak hanya ditentukan oleh perubahan status kelembagaan, tetapi juga perubahan budaya kerja seluruh sivitas akademika.

Baca juga:  Bendera HMI Dilecehkan, Kader Dikeroyok: HMI Desak Polda Jambi Usut Tuntas

Menurutnya, disiplin tidak lagi cukup diukur dari tingkat kehadiran, melainkan harus tercermin melalui kualitas proses pembelajaran, kepatuhan terhadap kurikulum, serta pembimbingan mahasiswa yang optimal.

“Pemanfaatan teknologi, termasuk AI, dalam dunia pendidikan juga harus dibarengi nalar dan literasi agar menghasilkan lulusan yang berkualitas dan benar-benar memiliki pemahaman yang mendalam,” tegasnya.

Melalui kegiatan studi banding tersebut, Senat UNJA berharap berbagai praktik baik yang diterapkan di UNP dapat menjadi referensi dalam memperkuat tata kelola universitas. Hasil kunjungan ini diharapkan mendorong seluruh unit kerja di lingkungan UNJA untuk terus berinovasi, meningkatkan profesionalisme, serta mempersiapkan langkah-langkah strategis menuju transformasi sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). (*)

Baca juga:  UNJA Buka Pekan Seni Mahasiswa 2026, Diikuti 240 Peserta dari 7 Fakultas