“Mari kita jadikan Museum Sriwijaya Dharmakirti ini sebagai jembatan antara ingatan masa lalu dan rancangan masa depan, antara pengetahuan lokal dan percakapan global, serta antara perlindungan warisan budaya dan pemanfaatannya untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Fadli Zon.
Menurutnya, keberadaan museum tersebut harus menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah kabupaten dan kota, sektor swasta, serta perguruan tinggi dalam memajukan kebudayaan.
Ia menjelaskan, museum akan dikembangkan sebagai laboratorium riset multidisiplin yang mencakup bidang arkeologi, sejarah, konservasi, hidrologi, bahasa, digitalisasi, hingga ekonomi budaya.
“Pengembangan penelitian di kawasan museum dilakukan melalui berbagai disiplin ilmu seperti arkeologi dan sejarah, konservasi, siklus serta sumber daya air (hidrologi), bahasa, digitalisasi, serta kajian ekonomi budaya,” ungkapnya.
Fadli Zon juga menekankan bahwa revitalisasi kawasan Muaro Jambi memerlukan waktu serta dukungan ekosistem yang kuat, termasuk kesiapan sumber daya manusia dan partisipasi masyarakat.
“Kesiapan SDM juga perlu disiapkan ke depan agar kawasan ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat seperti Borobudur. Borobudur sekarang sudah memiliki kawasan pasar dan berbagai festival yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Di Muaro Jambi ekosistem seperti itu juga harus dibangun bersama-sama,” jelasnya.
Ia berharap Museum Sriwijaya Dharmakirti ke depan berkembang menjadi pusat edukasi sekaligus pusat kegiatan kebudayaan.
“Museum ini selain menjadi pusat edukasi, tentu juga menjadi pusat budaya. Mungkin ke depan akan semakin banyak festival budaya yang diselenggarakan di sini. Akan ada perpustakaan, etalase warisan budaya tak benda, termasuk kuliner, suvenir, merchandise, hingga ruang imersif yang memperkenalkan kekayaan budaya Jambi,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa pembangunan Museum Sriwijaya Dharmakirti merupakan bagian dari revitalisasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi yang dimulai sejak 2022.
Menurutnya, pembangunan museum di atas lahan seluas 29 hektare dilakukan melalui tahapan yang ketat untuk memastikan tidak merusak tinggalan arkeologi yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
“Sebelum konstruksi dimulai, tim terlebih dahulu melakukan uji tanah arkeologi untuk memastikan area pembangunan tidak menindih atau merusak struktur yang tertinggal dalam cagar budaya di bawah tanah,” jelas Restu Gunawan. (*)




Tinggalkan Balasan