Ekonomi Jambi masih tumbuh pada kisaran empat persen. Jika ingin bergerak menuju pertumbuhan yang lebih tinggi dan mendekati target nasional 6 persen, Jambi membutuhkan mesin pertumbuhan baru.

Mesin itu tidak cukup berasal dari belanja pemerintah. Jambi membutuhkan investasi besar, hilirisasi, industrialisasi, produktivitas, ekspor dan pusat-pusat pertumbuhan baru.

Bayangkan jika Jambi tidak hanya memiliki satu investasi Rp12,7 triliun, tetapi mampu menyiapkan lima atau sepuluh proyek strategis dengan skala investasi besar.

Maka target pertumbuhan ekonomi bukan lagi sekadar angka dalam dokumen perencanaan.

Perlunya Investment Pipeline

Karena itu, setelah pembahasan KUA–PPAS 2027, Pemerintah Provinsi Jambi perlu memiliki dokumen pendamping yang operasional: Jambi Investment Pipeline 2027–2029 sebagai bagian dari agenda Transformasi Ekonomi Jambi 2045. Isinya adalah proyek-proyek strategis yang benar-benar siap ditawarkan kepada pemerintah pusat, BUMN dan investor.

Baca juga:  Gubernur Jambi Tekankan Pentingnya Sinergi Pusat–Daerah untuk Lancarkan Program Strategis

HVO dapat menjadi salah satu proyek awal, kemudian disusul hilirisasi sawit, karet, pinang, kelapa, kopi dan kayu manis; energi terbarukan; logistik; kawasan industri; Batanghari Integrated Development; pariwisata dan berbagai proyek strategis lainnya.

Dengan demikian, APBD tidak lagi sekadar dokumen belanja tahunan.

Pada akhirnya, persoalan Jambi bukan semata-mata apakah APBD kita besar atau kecil.

Persoalannya adalah seberapa kreatif kita menggunakan APBD yang terbatas untuk membuka sumber daya yang jauh lebih besar.

Jika investasi HVO dapat melewati seluruh proses kelayakan dan akhirnya terealisasi, proyek ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa paradigma tersebut bisa dilakukan.

Bukan APBD Rp3–4 triliun yang dipaksa menanggung seluruh kebutuhan pembangunan, tetapi APBD digunakan secara cerdas untuk menggerakkan puluhan triliun rupiah investasi.

Baca juga:  Gubernur Al Haris Kukuhkan 54 Anggota Paskibraka Provinsi Jambi 2025

Inilah paradigma yang perlu kita bangun:

APBD membuka jalan.

Investasi menciptakan industri.

Hilirisasi menciptakan nilai tambah.

Nilai tambah menciptakan pekerjaan.

Pekerjaan dan produktivitas meningkatkan kesejahteraan.

RAPBN 2027 telah memberikan arah. KUA–PPAS Jambi 2027 menjadi instrumennya. Investasi menjadi salah satu mesin penggeraknya.

Jika ketiganya mampu diorkestrasi dengan baik, Jambi memiliki peluang untuk naik kelas: dari daerah penghasil komoditas menjadi pusat hilirisasi dan industri bernilai tambah di Sumatera.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya:

“Berapa besar APBD yang kita punya?”

Dan mulai bertanya:

“Berapa besar ekonomi yang mampu kita gerakkan dengan APBD yang kita punya?”

Itulah kreativitas fiskal yang sesungguhnya.

Baca juga:  Gubernur Al Haris: Pengaturan Transportasi Batubara Jadi PR bagi Pemerintah

Penulis Merupakan Tenaga Ahli Gubernur Jambi