“Kami membagikan kepada pengendara motor, pengendara mobil maupun masyarakat yang berjalan kaki. Mudah-mudahan masker ini bisa membantu melindungi masyarakat dari paparan asap,” katanya.
Monang juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kondisi udara akibat kabut asap. Ia mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan dan menggunakan masker ketika harus keluar rumah.
“Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Tetapi bagi yang harus bekerja dan beraktivitas di luar, gunakan masker dan tetap menjaga kondisi kesehatan,” ujarnya.
Sekolah Dialihkan ke Pembelajaran Jarak Jauh
Dampak buruk kualitas udara juga telah mendorong pemerintah mengambil langkah perlindungan terhadap peserta didik.
Pemerintah Kota Jambi dan Pemerintah Provinsi Jambi meliburkan kegiatan pembelajaran tatap muka bagi peserta didik TK/PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK dengan mengalihkannya menjadi pembelajaran jarak jauh.
Kebijakan tersebut diberlakukan selama tiga hari, yakni 26–28 Agustus 2026, sebagai langkah antisipasi terhadap dampak pencemaran udara akibat kabut asap.
Monang menilai langkah tersebut perlu didukung karena anak-anak merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap dampak buruk kualitas udara.
“Kalau pemerintah sudah mengambil kebijakan mengalihkan pembelajaran menjadi daring, tentu ini harus kita dukung. Artinya kondisi udara memang harus menjadi perhatian serius, khususnya untuk kesehatan anak-anak,” katanya.
Ia berharap persoalan karhutla dapat segera ditangani sehingga kualitas udara di Kota Jambi kembali membaik dan masyarakat dapat beraktivitas secara normal.
“Harapan kami tentu asap ini segera hilang, kualitas udara kembali sehat, dan masyarakat bisa beraktivitas tanpa harus khawatir terhadap dampak kesehatan. Penanganan karhutla juga harus terus diperkuat agar persoalan seperti ini tidak berlarut-larut,” pungkas Monang. (AAS)




Tinggalkan Balasan