TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT meminta penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) memasuki fase yang lebih komprehensif.
Pemerintah tidak cukup hanya mengejar dan memadamkan titik api, tetapi harus secara bersamaan melindungi masyarakat dari kabut asap serta memperbaiki tata air kawasan gambut agar kebakaran tidak terus berulang.
Berdasarkan Laporan Posko Satgas Karhutla Provinsi Jambi per 26 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB, hotspot kumulatif sejak 1 Januari hingga 25 Agustus telah mencapai 4.631 titik, sementara estimasi luas lahan terbakar sekitar 954,41 hektare.
Pada 26 Agustus pukul 00.00–16.00 WIB terpantau 42 hotspot. Angka harian tersebut turun tajam dibanding sehari sebelumnya, namun Ivan mengingatkan penurunan hotspot tidak berarti ancaman telah berakhir.
“Hotspot harian turun, tetapi krisis belum selesai. Kita sudah menghadapi akumulasi 4.631 hotspot dan hampir seribu hektare lahan terbakar. Bahkan sekarang dampaknya sudah masuk langsung ke kesehatan masyarakat,” kata Ivan.
Muaro Jambi ISPU 303, Masuk Kategori Berbahaya
Perhatian utama DPRD kini tertuju pada kualitas udara. Pada 26 Agustus, ISPU Muaro Jambi mencapai 303 atau kategori Berbahaya, sementara Kota Jambi tercatat 182 atau Tidak Sehat.
Kondisi ISPU 303 di Muaro Jambi juga dikonfirmasi pemerintah daerah melalui DLH setempat dan dilaporkan bertahan pada kategori berbahaya sejak dini hari.
Menurut Ivan, kondisi tersebut menunjukkan Karhutla sudah tidak dapat diperlakukan semata sebagai urusan pemadaman.
“Ketika ISPU sudah 303, yang kita hadapi bukan lagi hanya api di lahan. Ini sudah menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, masyarakat dengan penyakit pernapasan dan kelompok rentan harus menjadi prioritas perlindungan,”ujarnya.
Ivan meminta pemerintah memastikan informasi kualitas udara disampaikan secara berkala serta menyiapkan masker, Puskesmas, rumah sakit, pelayanan ISPA dan kebijakan aktivitas masyarakat yang menyesuaikan perkembangan ISPU.
Sarolangun Tetap Episentrum Hotspot
Secara kumulatif, Sarolangun mencatat sekitar 1.188 hotspot, disusul Tanjung Jabung Barat 884 titik dan Muaro Jambi 740 titik.
Ketiga wilayah tersebut menyumbang sekitar 61 persen hotspot kumulatif Jambi.
Ivan meminta distribusi personel dan sumber daya penanggulangan mengikuti peta risiko, bukan dibagi secara merata.
“Kalau datanya menunjukkan sekitar enam dari sepuluh hotspot terkonsentrasi di tiga kabupaten, maka intervensi juga harus mengikuti data. Sarolangun, Tanjab Barat dan Muaro Jambi harus menjadi koridor prioritas operasi,” katanya.
Penguatan operasi terpadu juga telah dilakukan pemerintah dan aparat. Polda Jambi menyebut penanganan mencakup patroli, ground checking, pemadaman darat dan udara, pembasahan gambut serta 81 pos terpadu yang terdiri atas 11 pos dengan dukungan APBD Provinsi dan 70 pos dengan dukungan perusahaan.
Muaro Jambi Hadapi Tiga Tekanan Sekaligus
Menurut Ivan, Muaro Jambi membutuhkan perhatian khusus karena menghadapi tiga persoalan sekaligus: hotspot yang tinggi, luas lahan terbakar terbesar dalam laporan Satgas, serta kualitas udara yang sudah berbahaya.
“Muaro Jambi sekarang menghadapi api, kerusakan lahan dan asap sekaligus. Maka intervensinya juga harus tiga lapis: padamkan api, lindungi masyarakat dan pulihkan kondisi tata air gambut,” ujarnya.
Ivan menilai pola penanganan seperti ini penting karena lahan gambut memiliki karakteristik berbeda. Api dapat bertahan di bawah permukaan dan berpotensi muncul kembali apabila proses pendinginan dan pembasahan tidak tuntas.
Aparat juga mengakui keterbatasan sumber air dan karakter gambut sebagai kendala lapangan, sehingga pembasahan berkelanjutan, embung portabel, mobil tangki dan canal blocking menjadi bagian dari strategi penanganan.
Dua Helikopter Water Bombing Kembali Beroperasi
Ivan mengapresiasi kembali beroperasinya dukungan udara setelah sebelumnya terkendala visibilitas dan pemeliharaan.
Dalam laporan Satgas 26 Agustus, dua helikopter water bombing tercatat melakukan total 36 kali dropping dengan volume sekitar 144 ribu liter air.
Namun ia menegaskan water bombing tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Helikopter sangat membantu untuk kondisi darurat dan lokasi yang sulit dijangkau. Tetapi helikopter memadamkan kebakaran hari ini. Yang harus kita bangun adalah sistem yang mencegah kebakaran berikutnya,” katanya.
DPRD Dorong MPA-Air dan Tata Kelola Gambut




Tinggalkan Balasan