“Di wilayah ini memang perlu ada pemantauan kondisi air karena masyarakat menghadapi risiko banjir dan juga kondisi lahan yang dapat menjadi rawan ketika air terlalu rendah. Dengan adanya alat ini, warga lebih mudah mengetahui kondisi air dan bisa melakukan antisipasi lebih awal,” ujar Mukhlisin.
Hal serupa disampaikan Ketua RT 16, Abdul. Ia menilai keberadaan piezometer dan staff gauge dapat menjadi alat bantu bagi masyarakat dalam mengenali perubahan kondisi air di lingkungan sekitar.
“Dengan adanya piezometer dan staff gauge, warga jadi mempunyai alat bantu untuk melihat kondisi air. Kalau air mulai naik atau justru terlalu rendah, masyarakat bisa lebih cepat mengetahui dan mengambil langkah yang diperlukan,” ungkap Abdul.
Keterlibatan masyarakat dalam pemasangan dan pemanfaatan alat menjadi bagian penting agar sistem pemantauan tidak berhenti setelah kegiatan mahasiswa selesai.
SIMANTAP, Menjaga Pemantauan Tetap Berjalan
Untuk mendukung keberlanjutan sistem pemantauan, mahasiswa PPK Ormawa BEM Universitas Jambi 2026 membentuk SIMANTAP (Sistem Pemantauan Tinggi Muka Air Pudak).
SIMANTAP menjadi bagian dari upaya melanjutkan pemantauan tinggi muka air di Desa Pudak melalui pemanfaatan piezometer dan staff gauge yang telah dipasang di RT 13 dan RT 16.
Keberadaan tim tersebut diharapkan dapat membantu memastikan alat tetap dimanfaatkan dan kondisi air dapat dipantau secara berkala.
Melalui SIMANTAP, pemantauan kondisi air diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat terus dilakukan oleh masyarakat. Informasi yang diperoleh dari alat dapat menjadi salah satu bahan bagi warga untuk mengenali perubahan kondisi lingkungan dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana.
Dengan demikian, pemasangan alat tidak hanya menghasilkan sarana pemantauan, tetapi juga membangun sistem yang dapat terus dimanfaatkan setelah program PPK Ormawa berakhir.
Teknologi Sederhana, Langkah Nyata untuk Kesiapsiagaan
Bagi mahasiswa PPK Ormawa BEM Universitas Jambi 2026, pemasangan piezometer dan staff gauge bukan sekadar kegiatan memasang alat. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan teknologi sederhana yang dapat digunakan dan dipahami masyarakat secara langsung.
Ketua PPK Ormawa BEM Universitas Jambi 2026, Ahmad Al-Fauzan, menjelaskan bahwa pemantauan kondisi air menjadi hal penting dalam pengelolaan wilayah gambut.
“Melalui pemasangan piezometer dan staff gauge, kami ingin membantu masyarakat mendapatkan informasi mengenai kondisi air dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Harapannya, informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi warga untuk lebih siap menghadapi risiko kebakaran ketika muka air tanah terlalu rendah maupun risiko banjir ketika muka air di kanal mengalami kenaikan,” ujar Fauzan.
Menurutnya, keberadaan alat juga perlu diikuti dengan keterlibatan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Yang paling penting bukan hanya alatnya, tetapi bagaimana alat ini bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kami berharap warga dapat membaca indikatornya, memahami kondisinya, dan bersama-sama melakukan langkah antisipasi,” lanjutnya.
Dari Membaca Air hingga Membangun Kesiapsiagaan
Pemasangan piezometer dan staff gauge di Desa Pudak menunjukkan bahwa upaya mitigasi bencana dapat dimulai dari teknologi yang sederhana dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui indikator warna yang mudah dipahami, masyarakat dapat mengenali perubahan kondisi air tanpa harus menggunakan sistem pengukuran yang rumit. Piezometer membantu membaca kondisi muka air tanah, sementara staff gauge memberikan gambaran mengenai perubahan tinggi muka air di kanal.
Lebih dari sekadar pemasangan alat, hadirnya SIMANTAP menjadi langkah untuk menjaga agar pemantauan tersebut dapat terus dilakukan. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar sistem yang telah dibangun bersama dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Empat alat yang terpasang di RT 13 dan RT 16 bukan sekadar benda yang berdiri di sekitar kanal dan lahan. Alat-alat tersebut menjadi bagian dari langkah kecil Desa Pudak dalam membangun masyarakat yang lebih tanggap terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Karena dalam menghadapi banjir dan kebakaran lahan, mengetahui kondisi air lebih awal berarti memiliki kesempatan untuk bersiap lebih awal. (*)




Tinggalkan Balasan