Penguatan sistem pencegahan juga dilakukan melalui edukasi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB). Edukasi tersebut diarahkan untuk membangun perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola lahan sekaligus mengurangi risiko penggunaan api dalam aktivitas pembukaan lahan. Dengan demikian, DMPG tidak berhenti pada penyediaan sarana pemadaman, tetapi membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat agar mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem gambut.
Di sisi lain, pendekatan preventif PalmCo juga diperkuat dengan sistem pemantauan dan pengelolaan lingkungan di wilayah operasional. Jatmiko menjelaskan perusahaan mengembangkan sistem deteksi dini berbasis teknologi serta memperhatikan tata kelola air, terutama di kawasan gambut.
“Teknologi pemantauan ini menjadi system peringatan dini (early warning system) secara real-time. Namun, sistem secanggih apa pun harus didukung oleh kesiapan infrastruktur di lapangan,” jelasnya.
Jatmiko menambahkan bahwa pengelolaan tata air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga lahan gambut tetap lembap dan tidak mudah terbakar ketika kondisi cuaca semakin terik. Karena itu, strategi pencegahan PalmCo diarahkan untuk menghubungkan teknologi pemantauan dengan kesiapan infrastruktur di lapangan, sehingga potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Dimensi pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dari DMPG karena perlindungan gambut perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di Tanjung Jabung Timur, PTPN IV PalmCo menyalurkan 1.500 bibit nanas siap tanam, terdiri atas 1.000 bibit untuk masyarakat Desa Merbau dan 500 bibit untuk masyarakat Desa Sungai Tawar. Komoditas nanas dipilih karena dinilai sesuai dengan karakteristik lahan gambut setempat sekaligus memiliki potensi ekonomi sebagai buah segar maupun produk olahan.
Melalui Program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG), PTPN IV PalmCo memperkuat komitmen membangun ketahanan lingkungan sekaligus kemandirian ekonomi masyarakat melalui penguatan infrastruktur air, kesiapsiagaan MPA, zero burning policy, edukasi PLTB, serta pengembangan komoditas ramah gambut.
Dengan menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dan memperkuat kolaborasi bersama pemerintah daerah, program ini diharapkan mampu membentuk desa yang tangguh menghadapi karhutla, mandiri secara ekonomi, dan berkelanjutan dalam menjaga kelestarian ekosistem gambut. (*)




Tinggalkan Balasan