Oleh : Bram Aprianto

TANYAFAKTA.CO Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lahir bukan dari rahim politik lama yang sarat patronase, melainkan dari kegelisahan generasi baru terhadap praktik kekuasaan yang feodal, koruptif, dan miskin gagasan.

Dalam konteks ini, PSI tidak sekadar hadir sebagai kendaraan elektoral, tetapi sebagai upaya merawat politik rasional—politik yang menjadikan akal sehat, transparansi, dan keberpihakan pada warga sebagai fondasi. Pada titik inilah, genetik pemikiran Tan Malaka menemukan resonansinya.

Tan Malaka adalah tokoh yang menempatkan kemerdekaan berpikir sebagai syarat utama kemerdekaan bangsa. Melalui Madilog, ia menolak cara berpikir dogmatis, mistik, dan feodal yang menghambat kemajuan masyarakat.

Politik, bagi Tan Malaka, harus dibangun di atas rasionalitas dan kesadaran kritis rakyat, bukan kultus individu atau kepatuhan buta pada elite. Spirit inilah yang tercermin dalam DNA PSI: penolakan terhadap feodalisme politik, dinasti kekuasaan, dan praktik oligarkis yang menjauhkan rakyat dari proses pengambilan keputusan.

Baca juga:  Keracunan MBG: Ketika Program Gizi Menjadi Sebuah Ancaman bagi Kesehatan

PSI, sebagaimana Tan Malaka, memandang rakyat sebagai subjek politik. Bukan objek mobilisasi musiman, melainkan warga negara yang berhak atas informasi, partisipasi, dan kebijakan publik yang adil. Jika Tan Malaka berjuang membangkitkan kesadaran massa dalam situasi kolonial, maka PSI berupaya menerjemahkan kesadaran itu dalam ruang demokrasi modern—melalui advokasi kebijakan, kontrol kekuasaan, dan keberanian menyuarakan kebenaran di tengah kompromi politik yang kerap menumpulkan nurani.