TANYAFAKTA.CO, JAMBI- Penguatan tata kelola kelembagaan dan transformasi ekonomi umat menjadi sorotan utama dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) 1 LAZISNU PWNU Jambi yang digelar di Aula Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jumat (5/6/2026).

Mengusung tema “Hierarki dan Administrasi yang Tertib, Terstruktur, Melahirkan Produktivitas Pengurus dan Menjadikan Mustahiq Menjadi Muzzaki”, forum strategis ini merumuskan peta jalan baru filantropi Islam yang lebih modern, digital, dan mandiri di Provinsi Jambi.

 

Acara ini dihadiri oleh jajaran petinggi nahdliyin dan pejabat daerah, di antaranya Ketua LAZISNU PWNU Jambi Ali Murtada S.Sos.I, Direktur NU-Care PWNU Jambi Prof. Iskandar, Pimpinan LAZISNU PBNU yang diwakili Gus Rifqi Al-Mubarok, serta Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU PBNU Ibu Riri Koiriyah.

Baca juga:  Sektor Kepegawaian Menjadi yang Tertinggi dari Laporan yang Diterima Ombudsman Jambi Periode 2021-2025

Turut hadir Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Muktamar (mewakili Gubernur Jambi Alharis), unsur Forkopimda, MUI Jambi, serta perwakilan syuriah dan tanfidziyah PWNU Jambi.

 

Mengubah Pola Konsumtif Menjadi Produktif

Dalam laporannya, Ketua LAZISNU PWNU Jambi, Ali Murtada, menyampaikan bahwa dalam tiga tahun perjalanannya, lembaga ini terus berproses mengenalkan diri ke sektor korporasi. Pertumbuhan pesat yang dialami LAZISNU diakuinya tidak lepas dari berkah doa para kiai.

 

Salah satu capaian konkret yang dipaparkan adalah penyaluran 47 unit gerobak bantuan UMKM di Kabupaten Bungo. Ali menegaskan, ke depan LAZISNU Jambi akan mengubah paradigma penyaluran bantuan.

“Amanah ini akan terus kita kembangkan. Kedepannya bantuan tidak lagi fokus pada pembagian sembako, melainkan dalam bentuk bantuan UMKM produktif,” ujar Ali Murtada di hadapan para peserta Rakerwil, Jumat.

Baca juga:  DPW APRI Jambi Teken Kerja Sama dengan Ombudsman untuk Perkuat Tata Kelola Pertambangan Rakyat

Kemandirian LAZISNU Jambi juga terbukti lewat optimalisasi program ‘Koin Kaleng’. Dari hasil swadaya umat tersebut, LAZISNU kini telah memiliki aset tanah dan mobil operasional sendiri. Gerakan ini bahkan masif hingga ke tingkat bawah, seperti di Sungai Bahar, di mana 32 desa binaan kini sukses mengelola 38 unit mobil operasional.