TANYAFAKTA.CO, MEDAN – Pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah perkebunan Sumatera Utara. Tidak hanya menyasar kebun perusahaan, aksi tersebut juga merugikan petani sawit rakyat yang menggantungkan hidup dari hasil panen.

Modus pencurian yang terjadi pun semakin berani. Dalam sejumlah kasus, pelaku diduga bekerja secara terorganisir bahkan menggunakan senjata saat menjalankan aksinya.

Bagi petani kecil, kehilangan TBS bukan sekadar kehilangan hasil panen, tetapi berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga.

Arman (54), petani sawit asal Kabupaten Langkat, mengaku kebunnya yang tidak terlalu luas beberapa kali menjadi sasaran pencurian, terutama menjelang masa panen.

“Saya ini petani kecil. Produksi kebun tidak banyak. Ketika buah yang sudah siap panen dicuri, dampaknya langsung terasa ke ekonomi keluarga. Pernah saya kesulitan membeli pupuk karena hasil panen berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan,” ujar Arman, Jumat (19/6/2026).

Baca juga:  Ngeri! Sistem Bank 9 Jambi Down Total, Sejumlah Nasabah Mengaku Saldonya Raib

Menurut Arman, aksi pencurian saat ini semakin mengkhawatirkan karena pelaku tidak lagi bergerak sendiri.

“Kalau lihat polanya, pencurinya terorganisir. Terkadang kalau kepergok mereka berani mengancam dengan senjata. Jadi sangat menakutkan,” katanya.

Selain menyebabkan kehilangan hasil produksi, pencurian TBS juga berdampak terhadap kondisi tanaman. Pelaku kerap memanen secara tidak sesuai standar sehingga dapat mengganggu produktivitas kebun dalam jangka panjang.

“Dampaknya bukan hanya saat ini. Beberapa bulan ke depan hasil kebun juga terganggu karena pencuri tidak memanen sesuai standar,” lanjutnya.

Persoalan pencurian TBS juga dialami perkebunan yang dikelola PTPN IV PalmCo di berbagai wilayah Sumatera Utara.

Luas areal perkebunan dan banyaknya akses masuk menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku untuk mengambil buah sawit secara ilegal.

Baca juga:  Harga Sawit Sempat Tertekan, PTPN IV PalmCo Jaga Serapan TBS Petani Sesuai Aturan

Dampaknya tidak hanya berupa kehilangan hasil panen, tetapi juga memengaruhi operasional, produktivitas, serta pencapaian target perusahaan.

Zulfikar (38), pemanen sawit di salah satu unit usaha PTPN IV Regional 2, mengatakan pencurian membuat pekerja di lapangan menghadapi tantangan tambahan.

“Sering kali kami datang ke blok yang seharusnya siap dipanen, tetapi sebagian buah sudah tidak ada. Akibatnya target panen sulit tercapai,” ujarnya.

Region Head PTPN IV Regional 2, Budi Susanto, mengatakan pencurian TBS menjadi salah satu perhatian utama perusahaan.

Menurutnya, aksi tersebut tidak hanya mengurangi produksi, tetapi juga berpotensi menciptakan rantai ekonomi ilegal yang merugikan banyak pihak.

“Setiap tandan buah yang dicuri bukan hanya mengurangi produksi perusahaan, tetapi juga berdampak terhadap efisiensi operasional dan keberlanjutan usaha,” kata Budi.

Baca juga:  Harga TBS Kelapa Sawit Jambi Kembali Turun, Petani Harap Stabilitas Harga

Ia menjelaskan, perusahaan terus memperkuat sistem pengamanan melalui pemetaan wilayah rawan, peningkatan patroli, hingga pemanfaatan teknologi untuk mempersempit ruang gerak pelaku.