TANYAFAKTA.CO, JAKARTA – Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu strategi PTPN IV PalmCo dalam memperkuat produktivitas dan keberlanjutan usaha petani mitra sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku sawit untuk mendukung kebutuhan energi nasional melalui program B50.

Penguatan kemitraan dilakukan melalui peremajaan kebun, peningkatan produktivitas, pendampingan budidaya, hingga kepastian penyerapan hasil panen petani.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, peningkatan kebutuhan sawit untuk sektor energi perlu diikuti dengan penguatan produktivitas kebun rakyat. Langkah tersebut penting agar tambahan kebutuhan bahan baku biodiesel dapat dipenuhi secara berkelanjutan, tanpa memberikan tekanan terhadap ketersediaan CPO untuk kebutuhan pangan maupun industri lainnya.

Baca juga:  Dua Tahun Terakhir, PTPN IV PalmCo Perbaiki Puluhan Kilometer Jalan untuk Akselerasi Ekonomi Desa

“Petani sawit adalah pilar utama industri ini. Sekitar 30 persen pasokan bahan baku pengolahan industri di PalmCo berasal langsung dari hasil kebun petani rakyat. Karena itu, peningkatan produktivitas kebun rakyat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri sawit sekaligus menjawab kebutuhan energi nasional,” kata Jatmiko.

Peran petani mitra tersebut tercermin dari realisasi pembelian tandan buah segar (TBS) PalmCo hingga Juli 2026 yang mencapai 2,095 juta ton. Khusus pada Juli 2026, pembelian TBS dari petani mitra mencapai 361.494 ton, meningkat 40,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pasokan tersebut juga diikuti dengan kualitas bahan baku yang tetap terjaga. Rendemen crude palm oil (CPO) dari pembelian TBS petani mitra hingga Juli 2026 tercatat sebesar 18,56 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa penguatan kemitraan tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan volume pasokan, tetapi juga mendukung kualitas bahan baku yang diolah di pabrik kelapa sawit.

Baca juga:  Bukan Sekadar Mutu, PalmCo Mampu Pastikan Asal-usul CPO

Dari sisi ekonomi, pembelian TBS petani mitra hingga Juli 2026 menghasilkan margin kontribusi sebesar Rp125,29 miliar. Realisasi tersebut mencapai 226 persen dari target RKAP 2026 dan meningkat 216 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Capaian ini menunjukkan potensi kemitraan petani sebagai hubungan usaha yang memberikan nilai bagi kedua pihak, dengan petani memperoleh akses pasar dan perusahaan mendapatkan pasokan bahan baku yang semakin kuat.