Tsinghua University, universitas nomor satu di China dan peringkat 17 dunia turut hadir untuk melihat peluang kerja sama riset. Menurut Heryadi, kondisi persampahan di China yang semakin terbatas untuk suplai waste-to-energy membuat para peneliti kembali fokus pada konsep daur ulang.

“Mereka tertarik melihat bagaimana teknologi kami mampu mengubah sampah basah dan berbau menjadi kompos. Ini adalah kebutuhan yang sangat penting dalam penanganan limbah di seluruh dunia,” tambahnya.
Sementara itu, Qinglv Global sebagai penyedia mesin penyortiran berbasis AI datang untuk meninjau karakteristik sampah Indonesia dan melihat integrasi teknologi mereka dengan sistem Regen.
Turut hadir pula Shanghai Phelix Co. LTD, perusahaan asal Shanghai yang bergerak di bidang pyrolysis, atau teknologi mengubah plastik menjadi bahan bakar cair. Regen berharap perusahaan tersebut dapat menjadi offtaker sekaligus penampung hasil pemilahan plastik di Jambi.
“Kami berharap plastik yang sudah kami pisahkan di sini memiliki off-taker yang jelas. Karena itu kami mengajak mereka untuk melihat langsung kondisi lapangannya,” jelas Heryadi.
Proyek Pertama Regen di Indonesia
PT Regen Bioteknologi Solusi Indonesia saat ini beroperasi di Malaysia dan Indonesia. Jambi menjadi proyek perdana perusahaan tersebut di Indonesia.
“Untuk Jambi sendiri adalah proyek pertama kami di Indonesia. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang,” pungkas Heriyadi. (*)



Tinggalkan Balasan