“Saat mulai memimpin kota, rasanya seperti masuk ke hutan dengan berbagai karakter di dalamnya. Saya teringat kisah Babad Alas dalam Mahabarata, tentang Bima dan para Pandawa membuka Hutan Wanamarta,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa buku tersebut tidak hanya berisi kisah keberhasilan, tetapi juga kegagalan yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran seorang pemimpin.

“Buku ini adalah ruang refleksi. Tidak semua strategi berujung keberhasilan, dan di situlah pentingnya refleksi dan kontemplasi sebagai bagian dari perjalanan kepemimpinan,” jelasnya.

Bima Arya juga menekankan pentingnya prinsip dalam kepemimpinan, seperti menjaga ideologi, dukungan akar rumput, loyalitas, serta batas toleransi.

“Jangan menjadi pemimpin yang diperbudak materi atau bersikap pragmatis. Jadilah pemimpin yang mampu mengakomodasi kepentingan untuk kebaikan masyarakat,” tegasnya.

Baca juga:  Hesti Haris: Semangat Kartini Harus Dijawab dengan Aksi Nyata Perempuan Jambi di Era Digital

Selain bedah buku, kegiatan tersebut juga menjadi ajang berbagi pesan moral kepada mahasiswa untuk terus memperkaya wawasan dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang matang.

“Pemimpin itu bukan soal usia, tetapi soal kematangan,” pungkasnya.

Bedah buku ini turut dihadiri oleh Rektor Universitas Jambi Prof.Helmi, Wali Kota Jambi Dr.dr.H.Maulana,MKM, dan Kepala Jurusan Ilmu Sosial dan Politik (JISIP) UNJA.