a. Dominasi Kemiskinan Kota: Di Kota Jambi (ibu kota), angka kemiskinan secara persentase justru lebih tinggi dari angka provinsi, yakni berkisar antara 8,24% hingga 9,25%. Hal ini mengonfirmasi bahwa Jambi sedang mengalami fenomena “Miskin Kota”.
b. Faktor Migrasi dan Habituasi: Tingginya kemiskinan di ibu kota kabupaten dan provinsi (Kota Jambi) didorong oleh arus migrasi penduduk tanpa bekal Skill digital yang memadai. Penumpukan penduduk di kota tanpa kualifikasi pendidikan menengah-tinggi menciptakan kantong kemiskinan baru. Faktor Habit konsumtif di kota dan rendahnya literasi keuangan memperparah kondisi kemiskinan yang bersifat Keturunan (intergenerational poverty), di mana anak-anak migran kesulitan mengakses pendidikan unggulan untuk memutus rantai kemiskinan orang tua mereka.
Penutup
Kemiskinan di era global dan digital tahun 2026 adalah tantangan multidimensi yang memerlukan solusi integratif. Provinsi Jambi, dengan angka kemiskinan 6,89%, telah menunjukkan kemajuan luar biasa di atas rata-rata Sumatera dan Nasional, namun ancaman kemiskinan perkotaan dan pusat kota kabupaten akibat migrasi maayarakat yang relatif tinggi rata-rata (9,25%), menjadi tantangan baru bagi daerah secara nyata. Penanggulangan kemiskinan tidak bisa lagi hanya dengan bantuan sosial, melainkan melalui peningkatan literasi digital, penghancuran struktur institusi ekstraktif, dan penguatan etika ekonomi berbasis nilai-nilai moralitas atau Islam. Menjadi “tangan di atas” di abad digital berarti menguasai teknologi untuk menciptakan keadilan sosial, tidak hanya mengakumulasi modal individual atau kominal secara egois.
Referensi:
1. Acemoglu, D., & Robinson, J. A. (2023). Power and Progress: Our Thousand-Year Struggle Over Technology and Prosperity. New York: PublicAffairs.
2. Ahmed, H. (2025). Islamic Finance in the Digital Age: Institutions and Social Justice. Cambridge: Cambridge University Press.
3. Alkire, S., Kanagaratnam, U., & Suppa, N. (2024). “The Global Multidimensional Poverty Index: 2024 Insights.” World Development, 174, 106-125.
4. Al-Attas, S. M. N. (2022). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: Ta’dib International.
5. Balisacan, A. M., dkk. (2023). Urbanization and Poverty in Southeast Asia: Local Dynamics and Global Challenges. Singapore: Springer.
6. Brady, D. (2022). “The Sociological Theory of Poverty.” Annual Review of Sociology, 48, 119-140.
7. Desmond, M. (2023). Poverty, by America. New York: Crown.
8. Duflo, E., & Banerjee, A. V. (2022). Good Economics for Hard Times: Updated Edition. New York: PublicAffairs.
9. Green, N. (2022). Sufism: A Global History. Hoboken: Wiley-Blackwell.
10. Hassan, M. K. (2023). “The Ethics of Wealth in Islam: A Contemporary Review.” Journal of Islamic Business and Ethics, 8(2), 15-32.
11. Hill, H. (2024). The Regional Economy of Indonesia: Post-Pandemic Recovery and Structural Change. Oxford: Oxford University Press.
12. Piketty, T. (2023). A Brief History of Equality. Cambridge: Belknap Press.
13. Resosudarmo, B. P., & Jotzo, F. (2025). Climate Change and Regional Inequality in Indonesia. Canberra: ANU Press.
14. Sachs, J. D. (2025). The Ages of Globalization: Geography, Technology, and Institutions. New York: Columbia University Press.
15. Sirriyeh, E. (2023). Sufis and Anti-Sufis: The Defence, Rethinking and Rejection of Sufism in the Modern World. London: Routledge.
16. Smith, A. (1776/ Reprint 2007). An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Metalibri.
17. Stiglitz, J. E. (2024). The Road to Freedom: Economics and the Good Society. New York: W. W. Norton & Company.
18. Vandaele, K. (2024). “Digital Labour Platforms and the Reconstruction of Poverty.” European Journal of Industrial Relations, 30(1), 45-62.
19. World Bank. (2024). Poverty, Prosperity, and Planet Report 2024: Pathways Out of the Polycrisis. Washington DC: World Bank Group.





Tinggalkan Balasan