Dukungan terhadap Hafiyan juga datang dari keluarga yang sejak awal aktif membantu proses pencarian perguruan tinggi yang ramah disabilitas serta sesuai dengan minatnya.
Sementara itu, Guru Pendamping, Ika Thalia Nisa, menilai Hafiyan sebagai sosok yang memiliki semangat belajar tinggi dan inisiatif yang baik.
“Hafiyan ini anaknya menyenangkan, suka berinisiatif, dan banyak bertanya. Secara pemikiran sama seperti anak pada umumnya, hanya memiliki keterbatasan pada penglihatan. Namun, itu tidak menghalangi dia untuk terus belajar dan berkembang,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan UTBK di UNJA yang dinilai responsif terhadap kebutuhan peserta disabilitas.
“Fasilitasnya cukup memadai, dan panitia juga cepat tanggap dalam membantu kebutuhan peserta,” tambahnya.
Kisah Hafiyan menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dukungan dari keluarga, guru, dan institusi pendidikan menjadi kunci penting dalam membuka akses yang setara.
Langkah Hafiyan menuju bangku perkuliahan pun menjadi awal perjalanan panjang dalam mewujudkan cita-citanya di bidang teknologi, sekaligus inspirasi bagi generasi muda lainnya. (*)





Tinggalkan Balasan