TANYAFAKTA.CO, MUARO JAMBI – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SNBT di Universitas Jambi (UNJA) tahun 2026 berlangsung inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas. Hal ini terlihat dari keikutsertaan Muhammad Hafiyan Fuad, siswa SLBN Prof. Dr. Sri Soedewi MS, S.H., Jambi, yang mengikuti ujian pada sesi pertama hari ketiga, Kamis (23/4/2026), di Laboratorium UPATIK 1 UNJA Mendalo.

Dalam pelaksanaannya, Hafiyan didampingi oleh Koordinator Kelulusan Siswa, Ika Noor Hidayati, serta Guru Pendamping, Ika Thalia Nisa.

Hafiyan memilih Program Studi Teknik Informatika sesuai minat dan bakatnya. Meski memiliki keterbatasan penglihatan, ia dikenal sebagai sosok yang aktif dan memiliki semangat belajar tinggi. Bahkan, ia telah beberapa kali mengikuti lomba coding sebagai bentuk pengembangan diri.

Baca juga:  Halal Bihalal BPKU UNJA Pererat Silaturahmi, Rektor Ajak Perkuat Kebersamaan

Rektor UNJA, Helmi, turut meninjau langsung pelaksanaan UTBK dan menegaskan komitmen kampus dalam memberikan kesempatan setara bagi seluruh calon mahasiswa.

“UNJA menyediakan akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengikuti tahapan seleksi selanjutnya melalui jalur mandiri afirmasi. Ini merupakan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi,” ujarnya.

Koordinator Kelulusan Siswa, Ika Noor Hidayati, juga menyampaikan pesan motivasi kepada para siswa, khususnya penyandang disabilitas, agar tidak ragu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Negara telah menjamin melalui undang-undang bahwa setiap warga negara, baik difabel maupun tidak, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan,” katanya.

Dukungan terhadap Hafiyan juga datang dari keluarga yang sejak awal aktif membantu proses pencarian perguruan tinggi yang ramah disabilitas serta sesuai dengan minatnya.

Baca juga:  Webometrics 2025: UIN Jambi Masuk 10 Besar PTKIN Terbaik di Indonesia

Sementara itu, Guru Pendamping, Ika Thalia Nisa, menilai Hafiyan sebagai sosok yang memiliki semangat belajar tinggi dan inisiatif yang baik.

“Hafiyan ini anaknya menyenangkan, suka berinisiatif, dan banyak bertanya. Secara pemikiran sama seperti anak pada umumnya, hanya memiliki keterbatasan pada penglihatan. Namun, itu tidak menghalangi dia untuk terus belajar dan berkembang,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi pelaksanaan UTBK di UNJA yang dinilai responsif terhadap kebutuhan peserta disabilitas.

“Fasilitasnya cukup memadai, dan panitia juga cepat tanggap dalam membantu kebutuhan peserta,” tambahnya.

Kisah Hafiyan menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dukungan dari keluarga, guru, dan institusi pendidikan menjadi kunci penting dalam membuka akses yang setara.

Baca juga:  Sejarah Baru! Universitas Jambi Resmi Miliki 100 Guru Besar

Langkah Hafiyan menuju bangku perkuliahan pun menjadi awal perjalanan panjang dalam mewujudkan cita-citanya di bidang teknologi, sekaligus inspirasi bagi generasi muda lainnya. (*)