Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dollar AS secara global, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan pergerakan rupiah pada kuartal II 2026 berada di rentang Rp17.200 hingga Rp17.600 per dollar AS.
Ia menilai tingginya harga minyak dunia dan belum pulihnya arus modal asing menjadi faktor utama pelemahan rupiah.
“Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp17.800,” ujar Josua Pardede, dikutip dari Kompas.com, Selasa (5/5/2026). (*)
Halaman



Tinggalkan Balasan