Oleh : Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
TANYAFAKTA.CO – Pembangunan daerah pada era modern tidak lagi ditentukan hanya oleh kekayaan sumber daya alam. Banyak daerah dengan cadangan tambang besar, perkebunan luas, dan posisi geografis strategis justru mengalami perlambatan pembangunan karena lemahnya tata kelola pemerintahan.
Kondisi seperti inilah yang perlu menjadi perhatian serius di Provinsi Jambi. Potensi ekonomi Jambi sesungguhnya sangat besar, tetapi keberhasilan memanfaatkan potensi tersebut sangat bergantung pada kualitas institusi pemerintahan daerah.
Tantangan terbesar Jambi hari ini bukan sekadar bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melainkan bagaimana memastikan bahwa pembangunan benar-benar dikelola secara efektif, terukur, dan berorientasi jangka panjang.
Kondisi ekonomi Jambi pada Triwulan I Tahun 2026 sekilas memang terlihat mengalami perlambatan apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa ekonomi Jambi mengalami kontraksi sebesar 0,28 persen secara quarter-to-quarter dibandingkan Triwulan IV Tahun 2025.
Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi faktor musiman setelah tingginya aktivitas ekonomi pada akhir tahun, khususnya pada sektor perdagangan, konsumsi rumah tangga, dan aktivitas konstruksi.
Fenomena seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi pada awal tahun karena adanya penyesuaian aktivitas ekonomi pasca akhir tahun anggaran dan periode libur nasional. Kondisi tersebut karena itu tidak dapat langsung diartikan sebagai pelemahan fundamental ekonomi daerah. (jambi.bps.go.id)
Gambaran ekonomi Jambi justru menunjukkan kondisi yang relatif lebih baik apabila dilihat secara tahunan atau year-on-year. Pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan I Tahun 2026 tercatat sebesar 4,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Triwulan I Tahun 2025 yang berada pada kisaran 4,01 persen. Nilai Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku juga mencapai Rp88,80 triliun yang menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat masih bergerak cukup baik. Data tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi Jambi sesungguhnya masih mengalami ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas internasional. (jambi.bps.go.id)
Perbedaan antara pertumbuhan quarter-to-quarter dan year-on-year penting dipahami agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca kondisi ekonomi daerah. Pendekatan quarter-to-quarter lebih menggambarkan dinamika ekonomi jangka pendek yang sangat dipengaruhi faktor musiman dan siklus tahunan.
Sementara itu, pendekatan year-on-year memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kekuatan fundamental ekonomi daerah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ekonomi Jambi saat ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perlambatan musiman pada awal tahun, tren pertumbuhan tahunan sebenarnya masih bergerak positif.
Situasi tersebut menjadi indikasi bahwa ekonomi Jambi masih memiliki kapasitas tumbuh yang cukup baik apabila didukung oleh tata kelola pembangunan yang lebih efektif dan produktif.
Struktur ekonomi Jambi sampai hari ini masih terlalu bertumpu pada sektor berbasis komoditas primer. Ketergantungan terhadap perkebunan sawit, batu bara, dan hasil sumber daya alam lainnya membuat ekonomi daerah sangat sensitif terhadap fluktuasi pasar global.
Situasi tersebut menyebabkan stabilitas ekonomi daerah sering kali bergantung pada faktor eksternal yang sulit dikendalikan pemerintah daerah. Ketika harga komoditas naik, ekonomi daerah tumbuh cepat, tetapi ketika harga melemah, aktivitas ekonomi ikut melambat. Pola pembangunan seperti ini tidak cukup kuat untuk menghadapi persaingan ekonomi masa depan yang semakin kompetitif dan berbasis inovasi.




Tinggalkan Balasan