Irmawati menambahkan ampas sisa eco enzyme dapat dimanfaatkan menjadi kompos cair. Kompos tersebut nantinya digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan kampus. Melalui program itu, UIN STS Jambi ingin membangun budaya pengKorelolaan sampah berkelanjutan. Kampus juga mendorong sivitas akademika lebih peduli terhadap kelestarian bumi.

Dalam praktiknya, eco enzyme digunakan dengan beberapa takaran berbeda sesuai kebutuhan. Untuk mencegah bau, cairan dicampurkan menggunakan perbandingan satu banding sepuluh. Campuran itu kemudian disemprotkan langsung ke area penyembelihan hewan kurban.

Sementara itu, untuk membersihkan lantai digunakan campuran satu banding dua puluh. Larutan tersebut dipakai mengepel lantai agar tetap bersih dan bebas bau.

Adapun untuk mengatasi saluran air, eco enzyme dicampur dengan perbandingan satu banding sepuluh. Cairan itu kemudian dituangkan secara rutin ke saluran pembuangan air. Selain digunakan saat kurban, eco enzyme juga dapat dimanfaatkan untuk pengolahan limbah organik lainnya.

Baca juga:  Bendera HMI Dilecehkan, Kader Dikeroyok: HMI Desak Polda Jambi Usut Tuntas

Karena itu, Korpus Lingkungan Hidup dan SDGs membuka penjualan eco enzyme bagi masyarakat umum.

“Bagi warga kampus maupun masyarakat dapat membeli eco enzyme dengan harga terjangkau. Harga yang kita tawarkan Rp25.000 untuk setiap liter,” kata Irma.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian edukasi pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Ia berharap penggunaan eco enzyme semakin luas di tengah masyarakat. Dengan begitu, kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh melalui langkah sederhana dan berkelanjutan. (*)