Oleh karena itu, ketika tekanan ekonomi meningkat dan kapasitas adaptasi masyarakat melemah, peran negara seharusnya menjadi lebih signifikan, bukan justru berkurang.

Melemahnya Daya Saing dan Tekanan terhadap Nilai Tukar

Penyempitan surplus perdagangan pada April 2026 hingga mencapai level terendah dalam enam tahun terakhir menunjukkan adanya tantangan yang lebih mendasar dalam struktur perekonomian nasional.

Peningkatan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor mengindikasikan bahwa kapasitas produksi dan daya saing sektor industri domestik masih menghadapi berbagai kendala.

Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan devisa dan memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ketika depresiasi rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, maka biaya impor energi menjadi semakin tinggi.

Dengan demikian, kenaikan harga BBM yang terjadi saat ini dapat dipahami sebagai konsekuensi dari akumulasi persoalan ekonomi makro yang belum terselesaikan secara optimal pada periode sebelumnya.

Baca juga:  Penguatan Dana Desa Tematik Gizi: Fondasi Kesehatan dari Akar Rumput

Dampak Multiplikatif terhadap Ekonomi Rakyat

Argumen bahwa Pertamax hanya digunakan oleh kelompok masyarakat berpendapatan tinggi tidak sepenuhnya mencerminkan realitas ekonomi di lapangan. Dalam praktiknya, pengguna Pertamax tidak hanya berasal dari kalangan pemilik kendaraan pribadi kelas atas, tetapi juga mencakup pekerja sektor informal, pengemudi transportasi daring, pelaku usaha mikro, serta sektor distribusi barang dan jasa.

Kenaikan harga BBM berpotensi memicu efek berantai dalam perekonomian. Biaya transportasi dan logistik meningkat, yang kemudian mendorong kenaikan ongkos kirim dan harga berbagai kebutuhan pokok. Pada akhirnya, tekanan tersebut akan bermuara pada penurunan daya beli masyarakat.

Dalam situasi di mana kapasitas fiskal negara terbatas dan program perlindungan sosial belum mampu memberikan bantalan yang memadai, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan menerima dampak kebijakan tersebut. Oleh karena itu, efek kenaikan BBM tidak hanya dirasakan oleh individu pengguna kendaraan, tetapi juga oleh keseluruhan rantai ekonomi rakyat.

Baca juga:  Harlah Sarolangun Ke-25, Saatnya Mengokohkan Kolaborasi di Era Pilkada

Geopolitik sebagai Faktor Eksternal dan Keterbatasan Respons Kebijakan

Tidak dapat dipungkiri bahwa kenaikan harga minyak dunia dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk konflik geopolitik dan fragmentasi perdagangan global. Namun demikian, faktor eksternal tidak seharusnya menjadi satu-satunya penjelasan atas meningkatnya beban ekonomi masyarakat.

Berbagai negara menunjukkan bahwa terdapat sejumlah alternatif kebijakan yang dapat ditempuh untuk meredam dampak gejolak energi, seperti pemberian subsidi energi yang bersifat sementara, pengurangan beban pajak bahan bakar, maupun penguatan layanan transportasi publik selama masa krisis.

Oleh karena itu, respons kebijakan yang hanya bertumpu pada mekanisme harga pasar dapat dipandang sebagai indikasi terbatasnya inovasi kebijakan dalam melindungi masyarakat dari tekanan eksternal.

Baca juga:  Pemerintah Provinsi  Jambi dan BAZNAS Perkuat Peran Zakat dalam Pengentasan Kemiskinan

Penutup

Kenaikan harga BBM pada tahun 2026 pada dasarnya merupakan gejala dari persoalan yang lebih mendalam dalam tata kelola ekonomi nasional. Permasalahan tersebut mencakup rendahnya kapasitas fiskal, lemahnya daya saing industri, perlambatan kinerja ekspor, serta masih berlangsungnya praktik korupsi dan kebocoran anggaran yang mengurangi efektivitas belanja negara.

Dalam perspektif ekonomi-politik, kondisi ini menunjukkan bahwa kerentanan masyarakat terhadap guncangan global tidak semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal, melainkan juga oleh persoalan struktural yang belum terselesaikan di dalam negeri.

Selama reformasi fiskal, penguatan sektor produktif, perbaikan tata kelola anggaran, dan pemberantasan korupsi belum dilakukan secara konsisten, maka setiap gejolak ekonomi global berpotensi kembali menempatkan masyarakat sebagai pihak yang paling awal dan paling besar menanggung dampaknya.

Penulis Merupakan Presiden Mahasiswa UNAMA