Lebih jauh, tindakan ini melanggar esensi prinsip akuntabilitas dan transparansi pemerintah. Instansi yang menggunakan “tangan kotor” untuk membungkam oposisi menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki basis legitimasi yang kuat atas kebijakan yang diambilnya. Mereka takut pada pengujian hukum dan uji publik, sehingga memilih jalan pintas untuk membungkam nalar kritis.

 

Namun, di tengah gempuran narasi pesanan tersebut, muncul secercah harapan. Mahasiswa yang sadar dan elemen rakyat tidak tinggal diam. Mereka secara konsisten berdiri sebagai benteng pertahanan, menjaga Tiyo dari upaya kriminalisasi dan intrik kotor kelompok bayaran. Solidaritas rakyat ini adalah bukti bahwa semangat perlawanan terhadap ketidakadilan tidak bisa dibeli dengan janji karier atau kucuran dana. Rakyat sadar bahwa ketika suara kritis dibungkam, maka nasib kebijakan publik akan berada dalam cengkeraman elit tanpa pengawasan.

Baca juga:  Harapan Besar kaum Tani Jambi Ada di Romi Haryanto

 

Kepada mereka yang gemar menyerang rekan sendiri demi kepentingan elit, ingatlah bahwa kekuasaan itu ada batasnya, namun catatan sejarah bersifat abadi. Menjadi pelindung kebijakan yang timpang hanya akan menempatkan kalian dalam barisan pion pragmatis yang menggadaikan masa depan bangsa demi kenyamanan sesaat.

 

Sudah saatnya kita membersihkan gerakan pemuda dari para penumpang gelap dan makelar politik. Bagi Tiyo dan kawan-kawan di BEM UGM, tetaplah menjadi jangkar kewarasan. Bagi rakyat dan mahasiswa yang tetap teguh menjaga barisan, teruslah mengawal setiap langkah perjuangan ini. Kritik harus tetap bergulir karena tanpa kendali publik, kekuasaan akan melaju tanpa rem menuju jurang otoritarianisme. Berhentilah menjadi humas informal bagi mereka yang anti-kritik. Jika status mahasiswa hanya digunakan untuk mengamankan proyek atau agenda elit, maka sekat intelektual kalian sebenarnya telah runtuh. Kembalilah ke khittah: berdiri bersama rakyat mengawal keadilan, bukan menjadi tameng bagi mereka yang takut pada kebenaran.

Baca juga:  Menjelang Natal, Ketua GMNI Jambi Minta Polda Jambi Perkuat Pengamanan dan Pengaturan Lalu Lintas Mudik

Ini adalah penghinaan terhadap nalar publik. Memanfaatkan status mahasiswa dan pemuda atau golongan sebagai tameng untuk mengamankan proyek atau agenda elit bukanlah bentuk loyalitas politik, melainkan pengkhianatan terhadap idealisme pergerakan. Rakyat hari ini sudah cukup cerdas untuk membedakan mana mahasiswa atau pemuda yang bergerak atas dasar keresahan nurani, dan mana yang sekadar menjadi “humas bayaran” bagi mereka yang takut pada kebenaran.

Penulis merupakan seorang aktivis di Provinsi Jambi