TANYAFAKTA.CO, JAMBI — Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai pengelolaan parkir di kawasan taman hiburan dan destinasi wisata di Kabupaten Muaro Jambi perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Potensi kebocoran penerimaan, khususnya dari aktivitas parkir pada destinasi dengan tingkat kunjungan tinggi, perlu diantisipasi melalui sistem pengelolaan yang lebih transparan dan terukur.
Menurut Noviardi, destinasi seperti Jambi Paradise dan Jambi Park memiliki basis pengunjung yang cukup besar sehingga aktivitas parkir di kawasan tersebut secara ekonomi memiliki potensi penerimaan yang tidak kecil.
Ia memperkirakan secara kasar potensi penerimaan parkir yang tidak terdata atau tidak terekap dapat mencapai sekitar Rp8 juta per hari untuk setiap taman hiburan pada hari dengan tingkat kunjungan tinggi. Angka tersebut merupakan simulasi potensi, bukan temuan audit atau tuduhan bahwa pengelola tertentu mengalami kebocoran.
“Kalau kita gunakan asumsi sederhana, misalnya terdapat ratusan hingga ribuan kendaraan dengan rata-rata pungutan parkir tertentu, maka ruang transaksi yang tidak tercatat bisa bernilai jutaan rupiah per hari. Saya memperkirakan potensi yang perlu diawasi bisa berada di kisaran Rp8 juta per hari per destinasi. Ini harus diuji melalui data kendaraan dan transaksi yang sebenarnya,” ujar Noviardi.
“Parkir jangan dilihat hanya sebagai fasilitas pendukung wisata. Jika dikelola dengan baik, parkir merupakan salah satu sumber penerimaan yang bisa memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah maupun pendapatan pengelola,” ujar Noviardi.
Ia menilai potensi persoalan bukan berarti telah terjadi kebocoran di destinasi tertentu. Namun, karakteristik transaksi parkir yang sebagian masih menggunakan pembayaran tunai membuat pengawasan dan rekonsiliasi penerimaan menjadi tantangan tersendiri.
“Yang perlu kita soroti adalah potensi kebocorannya. Jangan sampai jumlah kendaraan yang masuk, tarif yang dipungut, dan penerimaan yang dilaporkan tidak memiliki basis data yang sama,” katanya.
Noviardi mencontohkan, destinasi dengan kapasitas kunjungan tinggi seperti Jambi Park memiliki aktivitas kendaraan yang cukup besar. Pada Juni 2026, pengelola Jambi Park bahkan menyebut destinasi tersebut mampu mengakomodasi hingga 10 ribu pengunjung per hari pada periode ramai.
“Kalau jumlah pengunjung dan kendaraan tinggi, maka nilai transaksi parkir juga semakin besar. Karena itu, pengelolaannya harus menggunakan prinsip akuntabilitas dan traceability, sehingga setiap kendaraan yang masuk dapat direkonsiliasi dengan penerimaan parkir,” jelasnya.
Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola parkir di destinasi wisata, termasuk mekanisme pemungutan, karcis atau bukti transaksi, pencatatan kendaraan, pembagian kewenangan antara pengelola dan petugas parkir, hingga mekanisme penyetoran apabila terdapat kewajiban kepada daerah.
Noviardi juga mengingatkan agar persoalan parkir tidak hanya dilihat dari sisi pungutan, tetapi juga dari aspek kenyamanan wisatawan. Gubernur Jambi Al Haris sebelumnya telah mengingatkan petugas parkir di lokasi wisata agar menerapkan tarif yang wajar dan tidak merugikan masyarakat.




Tinggalkan Balasan