OLEH : ZIKRI RAMADHAN

TANYAFAKTA.CO – Di tengah berbagai persoalan sosial yang kita hadapi hari ini, ada satu pertanyaan yang perlu direnungkan oleh kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI): sebenarnya, untuk apa kita berorganisasi, belajar, dan terus berbicara tentang perubahan jika semua itu tidak punya hubungan dengan kehidupan masyarakat?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup penting untuk melihat kembali arah gerakan kader HMI saat ini. Sebab, menjadi kader bukan hanya soal memahami nilai-nilai keislaman, aktif dalam forum perkaderan, atau mampu berdebat tentang berbagai teori. Lebih dari itu, kader juga harus mampu melihat persoalan di sekitarnya dan memahami mengapa persoalan tersebut terus terjadi.

Baca juga:  HMI Korkom Unbari Desak Polda Jambi Tangkap Pelaku Pengeroyokan dan Penghinaan Bendera HMI di UIN STS Jambi

Penulis melihat fenomena ini menggunakan kacamata intelektual organik yang diperkenalkan oleh Antonio Gramsci, seorang pemikir asal Italia. Dalam pemikirannya, intelektual bukan sekadar orang yang memiliki banyak pengetahuan atau pandai berbicara. Intelektual juga punya peran dalam membangun kesadaran dan menghubungkan gagasan dengan kehidupan masyarakat.

Jika dikaitkan dengan HMI, pertanyaannya kemudian adalah apakah pengetahuan yang diperoleh kader selama proses perkaderan sudah benar-benar digunakan untuk membaca persoalan rakyat, atau justru hanya berhenti di ruang diskusi?

Gramsci juga menjelaskan konsep hegemoni, yaitu bagaimana kekuasaan bisa bertahan bukan hanya karena paksaan, tetapi juga karena masyarakat menerima suatu keadaan sebagai sesuatu yang wajar.

Misalnya, ketika kemiskinan dianggap semata-mata akibat kemalasan seseorang, kita sering lupa melihat persoalan yang lebih luas, seperti ketimpangan akses pendidikan, kesempatan kerja, dan penguasaan sumber daya.

Baca juga:  Kontroversi di HMI Komisariat UNH : Hendra Saputra Terpilih sebagai Formatur Meski Terlibat Politik Praktis

Begitu juga ketika kerusakan lingkungan dianggap sebagai konsekuensi biasa dari pembangunan, sementara masyarakat harus menanggung dampaknya. Di sinilah pentingnya kesadaran kritis, yaitu keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa dan melihat kepentingan siapa yang sebenarnya diuntungkan.

Hemat penulis, gerakan kader HMI perlu mengambil peran dalam membangun kesadaran semacam ini.