TANYAFAKTA.CO, MUARO JAMBI – Upaya percepatan transformasi digital pendidikan di daerah kembali menguat melalui program Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Gamifikasi Berbasis Augmented Reality (AR) dengan Konten Kearifan Lokalyang diselenggarakan tim pengabdian Universitas Jambi di SMA Negeri 8 Muaro Jambi.

Program yang diketuai oleh Prof. Dr. Haryanto, M.Kes. ini menjadi salah satu bentuk nyata dukungan perguruan tinggi dalam memperkaya praktik pembelajaran berbasis teknologi yang relevan dan mudah diimplementasikan oleh guru.

Kegiatan berlangsung melalui pendekatan hands-on workshop, di mana seluruh peserta tidak hanya mempelajari konsep, tetapi dipandu langsung untuk menghasilkan produk AR yang siap diterapkan di kelas. Program ini memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdikbudristek melalui Hibah PKM BIMA Tahun 2025dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Baca juga:  HMI Komisariat ISIP Resmi Dilantik, Hayatullah Siap Membuat Gebrakan

Pelatihan ini diikuti guru dari berbagai mata pelajaran yang memiliki motivasi kuat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di era digital. Dua anggota tim pengabdian, yaitu Febbry Romundza, M.Pd. dan Hendra, M.Pd., memberikan pendampingan teknis mulai dari pengenalan aplikasi AR, penyusunan skenario gamifikasi, hingga proses rendering objek 3D.

Peserta dilatih menggabungkan konsep pembelajaran dengan elemen budaya Jambi, seperti rumah adat Kajang Lako, ukiran tradisional, ragam hias batik Jambi, hingga landmark budaya lainnya. Integrasi budaya lokal ini menjadikan AR bukan hanya sekadar teknologi, tetapi juga sarana memperkuat identitas peserta didik.

Dalam setiap sesi, peserta didorong menyusun skenario pembelajaran yang tidak hanya menarik, tetapi juga memenuhi tuntutan Kurikulum Merdeka yang adaptif dan berpusat pada siswa.

Baca juga:  Halal Bihalal BPKU UNJA Pererat Silaturahmi, Rektor Ajak Perkuat Kebersamaan

Menurut Prof. Dr. Haryanto, pemanfaatan AR dalam pembelajaran merupakan kebutuhan mendesak untuk menjawab penurunan motivasi siswa dan tantangan pembelajaran konvensional.

“Augmented Reality bukan sekadar teknologi, tetapi jembatan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih hidup dan kontekstual. Guru harus memiliki keterampilan digital yang relevan agar dapat memandu siswa di era informasi. Pelatihan ini memastikan guru tidak hanya memahami teknologi, tetapi mampu mengembangkannya sesuai kebutuhan kelas,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa integrasi budaya lokal adalah strategi strategis untuk memperkuat karakter siswa dalam pembelajaran modern.

Evaluasi pelatihan menunjukkan peningkatan kompetensi guru yang sangat signifikan. Pemahaman guru tentang konsep AR melonjak dari 52% menjadi 88%, mengalami peningkatan 36 poin dalam waktu singkat. Sementara itu, kemampuan guru dalam merancang gamifikasi pembelajaran berbasis AR naik dari 48% menjadi 85%, menunjukkan peningkatan 37 poin.

Baca juga:  Hardiknas 2026 di Aek Raja: GMNI Sumut dan Formabes Dorong Kreativitas Anak, Soroti Ketimpangan Pendidikan Desa

Angka ini diperoleh melalui penilaian terhadap proyek akhir setiap peserta. Lebih dari 92 persen peserta merasa pelatihan ini sangat bermanfaat, aplikatif, dan mudah mereka terapkan dalam pembelajaran. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan hands-on workshop terbukti efektif dalam mempercepat pemerolehan keterampilan baru di kalangan guru.