Dampak implementasi AR di kelas juga tampak kuat. Berdasarkan observasi uji coba di beberapa kelas, tingkat engagement siswa meningkat rata-rata 32%, yang diukur melalui indikator partisipasi aktif, fokus belajar, keberanian bertanya, serta ketekunan menyelesaikan tantangan gamifikasi. Siswa terlihat antusias memindai objek AR menggunakan gawai, mengamati visual 3D berbasis budaya Jambi, dan menyelesaikan misi pembelajaran yang mereka anggap menantang sekaligus menyenangkan.
Guru melaporkan bahwa konsep abstrak kini dapat dipahami siswa dengan lebih cepat karena objek AR menghadirkan visualisasi nyata yang sebelumnya sulit mereka bayangkan. Keaktifan siswa meningkat, terutama saat guru menyampaikan materi berbasis konteks kearifan lokal.
Pelatihan ini mendapat apresiasi positif dari DPPM Kemdikbudristek. Dalam rilis resminya, perwakilan DPPM menyampaikan bahwa pelatihan AR ini selaras dengan arah kebijakan nasional dalam penguatan literasi digital pendidik.
“Kami memberikan apresiasi kepada Universitas Jambi karena berhasil menghadirkan program pengabdian yang berdampak nyata. Penguatan kompetensi guru melalui AR dan integrasi budaya lokal adalah langkah penting untuk memperluas akses pembelajaran berkualitas di berbagai daerah,” ujar perwakilan DPPM.
Ia menegaskan bahwa program ini menjadi contoh konkret bagaimana hibah PKM BIMA dapat meningkatkan kapasitas guru dalam mengembangkan metode belajar yang mutakhir.
Dukungan penuh juga datang dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi.
Ketua LPPM dalam pernyataan tertulisnya mengatakan LPPM Universitas Jambi berkomitmen untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam transformasi pendidikan di wilayah Jambi.
“Pelatihan seperti ini membuktikan bahwa teknologi dan budaya lokal dapat bersinergi untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih kreatif dan berdampak. Kami mendorong agar model pelatihan ini diperluas ke sekolah-sekolah lain di kabupaten dan kota di Provinsi Jambi,” ujarnya.
LPPM juga menegaskan bahwa pengembangan pendidikan digital di sekolah harus dilakukan secara berkelanjutan. Keberhasilan pelatihan ini mendorong tim pengabdian merancang tahap lanjutan berupa pembentukan komunitas guru kreatif berbasis AR di tingkat provinsi.
Komunitas ini akan menjadi ruang berbagi karya, ide, kurikulum, dan perangkat pembelajaran berbasis AR yang dapat digunakan lintas sekolah. Tim juga berencana melakukan pendampingan lanjutan secara berkala untuk memastikan keberlanjutan implementasi AR dalam pembelajaran. SMA Negeri 8 Muaro Jambi diproyeksikan menjadi sekolah model dalam penerapan teknologi pembelajaran berbasis budaya lokal.
Dengan peningkatan kompetensi guru yang sangat signifikan, respon siswa yang positif, serta dukungan penuh dari pemerintah dan perguruan tinggi, program pengabdian ini menjadi salah satu model terbaik penerapan teknologi AR di lingkungan sekolah. Pelatihan ini membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat dipadukan dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan nilai budaya, sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran. Program ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari gerakan nasional peningkatan kualitas pendidikan berbasis teknologi. (*)



Tinggalkan Balasan