Oleh : Muhammad Alif Puta Widayat, S.Tr.I.P

TANYAFAKTA.CO Dalam kajian sosiologi hukum, kepatuhan hukum dipahami bukan sebagai hasil mekanis dari keberadaan aturan tertulis semata, melainkan sebagai produk dari relasi sosial yang terbentuk dan berkembang di dalam struktur organisasi pemerintahan.

Dari perspektif Inspektorat Daerah Provinsi Jambi, hukum memperoleh daya kerjanya karena ia diinternalisasi, dimaknai, dan dijalankan oleh aparatur dalam praktik birokrasi sehari-hari.

Oleh karena itu, kepatuhan hukum aparatur pemerintah daerah merupakan hasil interaksi yang dinamis antara norma hukum, sistem organisasi, budaya kerja, serta mekanisme pengawasan yang berjalan secara berkelanjutan di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah.

Secara sosiologis, birokrasi daerah merupakan arena sosial yang mempertemukan berbagai kepentingan, rasionalitas administratif, dan tuntutan kinerja. Aparatur menjalankan tugas dalam jejaring hubungan hierarkis, target pembangunan, serta keterbatasan sumber daya yang memerlukan kejelasan arah dan kepastian hukum.

Baca juga:  Penguatan Dana Desa Tematik Gizi: Fondasi Kesehatan dari Akar Rumput

Dalam konteks tersebut, Inspektorat Daerah Provinsi Jambi memandang bahwa kepatuhan hukum tumbuh secara efektif ketika aturan dipahami sebagai pedoman kerja yang relevan, memberikan rasa aman, dan mendukung pencapaian tujuan organisasi, bukan sekadar sebagai kewajiban formal.

Pengalaman pengawasan menunjukkan bahwa kepatuhan hukum yang berkelanjutan memerlukan proses internalisasi nilai hukum dalam praktik birokrasi. Kepatuhan administratif yang bersifat formal tetap diperlukan, namun Inspektorat Daerah Provinsi Jambi secara konsisten mendorong agar kepatuhan tersebut berkembang menjadi kepatuhan substantif, di mana hukum benar-benar menjadi rujukan dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan.

Pendekatan ini sejalan dengan pemahaman sosiologi hukum mengenai pentingnya menjembatani kesenjangan antara hukum sebagai teks normatif dan hukum sebagaimana dipraktikkan dalam kehidupan organisasi.

Baca juga:  Ternyata, Reformasi Birokrasi Masuk Dalam RPJMD 2025-2029

Dalam kerangka tersebut, Inspektorat Daerah Provinsi Jambi tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan formal, tetapi berperan sebagai aktor institusional yang membentuk pemahaman dan orientasi aparatur terhadap hukum.

Setiap kegiatan audit, reviu, pendampingan, dan evaluasi diposisikan sebagai proses interaksi sosial yang membawa pesan normatif mengenai pentingnya kepatuhan hukum dalam menjaga kualitas tata kelola pemerintahan. Melalui pendekatan ini, hukum dipahami sebagai instrumen pembelajaran organisasi yang memperkuat profesionalisme aparatur.

Pendekatan pengawasan berbasis manajemen risiko semakin memperkuat dimensi sosiologis tersebut. Inspektorat Daerah Provinsi Jambi secara aktif mendorong komunikasi yang konstruktif dan partisipatif dengan Organisasi Perangkat Daerah dalam mengidentifikasi potensi risiko hukum, administratif, dan keuangan sejak tahap perencanaan.

Baca juga:  Penguatan Kelembagaan Pemilu Dimulai dari Institusinya