‎TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Dewi Yulianti Kakak kandung Dedi Putra (alm), korban dugaan pembunuhan pada bulan Mei 2025 lalu hingga kini belum mendapatkan kejelasan dari pihak Kepolisian Daerah (Polda) Jambi.
‎Hal tersebut ia sampaikan saat konferensi pers di salah satu cafe di Kota Jambi pada Minggu, (21/6/2026) sore yang juga dihadiri puluhan aktivis dan mahasiswa.
‎Setelah satu tahun satu bulan lebih bersuara dimedia bahkan melakukan unjuk rasa, Dewi mengatakan Polda Jambi tetap tidak menunjukkan keseriusannya menangani kasus tersebut.
‎”Sampai sekarang tidak ada perkembangan sama sekali, apakah memang dibunuh atau bagaimana, siapa pelakunya?” ujar Dewi.
‎Lebih jauh, Ia berharap Polda Jambi tidak tebang pilih kasus terhadap rakyat kecil. Karena bagaimanapun kata Dewi, nyawa adiknya sangatlah berarti dan dia tidak akan berhenti berjuang sampai ada titik terangnya.
‎Untuk diketahui, kasus ini bermula pada tanggal 18 Mei 2025 lalu dimana Dedi Putra masih terlihat di CCTV dalam keadaan sehat. Besoknya, pada tanggal 19 Mei 2025 dini hari sekitar pukul 01. 00 WIB Dedi terlihat keluar dari rumah dijemput seseorang bermotor PCX mengarah kelokasi yang minim penerangan.
‎Pada sekitar pukul 05.30 WIB ibu Dedi melihat yang bersangkutan sudah tergeletak dikamarnya dalam kondisi mata lebam dan terdapat rembesan darah di hidung dan terdapat beberapa luka dibagian kepala dan di bagian punggung.
‎Tak lama berselang, pihak keluarga membawa Dedi ke RS DKT dan kemudian dinyatakan meninggal dunia.
‎Singkat cerita, pihak Kapolsek Kumpeh Ulu AKP Roviansyah secara lisan mengatakan bahwa kematian Dedi diakibatkan oleh kecelakaan.
‎Merasa janggal, Dewi bersama suaminya melaporkan peristiwa tersebut Ke Polda Jambi pada Tanggal 28 Mei 2025 lalu.
‎Kemudian, pada tanggal 7 Agustus 2025, Polda Jambi melakukan ekshumasi dan autopsi jenazah. Dari hasil tersebut, ditemukan bahwa kematian Dedi mengarah pada dugaan penganiayaan berat, bukan kecelakaan seperti yang sebelumnya disampaikan.
‎”Hasil ekshumasi, wajah dan kepalanya hancur, parah sekali kondisinya. Tetapi sampai saat ini, polisi tidak memberikan kejelasan apapun soal kematian adik saya,” kata Dewi.
‎Meski begitu, Dewi menilai sikap penyidik berubah setelah hasil ekshumasi keluar. Ia mengaku respons aparat tidak lagi sama seperti di awal pelaporan.
‎”Kok setelah hasil ekshumasi keluar semua berubah, respons penyidik setiap kali kami datang beda seperti di awal, pas lihat kami itu kek langsung emosi, seolah menyudutkan kami,” ungkapnya.
‎Dewi juga mengungkapkan sejumlah hal yang dianggap mengganjal. Ia mengaku telah menyerahkan berbagai barang bukti, mulai dari rekaman CCTV hingga handphone milik korban. Namun, hingga kini belum ada kejelasan tindak lanjut dari bukti-bukti tersebut.
‎”Ada tiga yang mengganjal kami, Polda tidak mau buka CCTV di kompleks perumahan, data di Handphone adik saya hilang, dan sepeda motor PCX,” ujarnya.
‎Salah satu kejanggalan yang paling disorot adalah rekaman CCTV di lingkungan perumahan yang diduga merekam momen sebelum Dedi ditemukan tewas. Keluarga meyakini dalam rekaman tersebut, Dedi terlihat bersama seseorang dengan menggunakan sepeda motor Honda PCX.
‎”Kami tahu suara adik kami, ciri-cirinya. Kami yakin di CCTV itu adik kami, suaranya jelas, bajunya jelas kami kenal,” jelasnya.





Tinggalkan Balasan