‎Namun, menurut Dewi, sejak awal pihak kepolisian tidak pernah membuka atau mendalami rekaman tersebut. Hal ini semakin menimbulkan tanda tanya besar bagi keluarga.
‎Kejanggalan lain juga muncul terkait identitas sepeda motor yang digunakan. Awalnya disebut sebagai Honda PCX, namun kemudian berubah menjadi Honda Vario.
‎Kecurigaan keluarga semakin menguat setelah mengetahui bahwa pemilik sepeda motor tersebut sempat dipanggil sebagai saksi, namun tidak pernah memenuhi panggilan. Bahkan, kendaraan itu disebut telah dijual.
‎”Bahkan, pemilik sepeda motor itu sudah dipanggil sebanyak tiga kali sebagai saksi, tetapi tidak pernah datang,” kata Dewi.
‎Selain itu, hilangnya data dalam handphone korban juga menjadi sorotan. Ia menyebut seluruh data komunikasi di ponsel Dedi tidak dapat ditemukan. Padahal, keluarga sebelumnya telah menyerahkan nomor terakhir yang menghubungi korban.
‎Pihak Polda Jambi, lanjut Dewi, justru menyalahkan keluarga karena telah mencabut kartu SIM dari ponsel tersebut.
‎”Katanya, kenapa kami keluarkan kartu dari HP, sehingga datanya hilang. Jadi tidak ada jejak komunikasi yang ditemukan di HP adik saya,” katanya.
‎Hingga kini, Dewi terus menyuarakan pencarian keadilan bagi adiknya. Ia secara konsisten membagikan perkembangan kasus ini melalui media sosial, dengan harapan mendapat perhatian luas dan mendorong pengungkapan kasus secara terang.
‎Sementara itu, Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Erlan Munaji saat dimintai keterangan oleh TanyaFakta.co, ia hanya menjawab kasus tersebut akan terlebih dahulu dilakukan pengecekan.
‎”Nanti kami cek ke penyidiknya ya,”ujar Erlan singkat pada Senin, (22/6/2026).
‎Menanggapi hal ini, Koordinator Sentra Keadilan Jambi (Sajdam) Ali mengatakan bahwa banyak kejanggalan dan seperti ada sesuatu yang ditutup tutupi dari kasus ini.
“Oleh karena itu, kami mencoba melakukan audiensi bersama keluarga dan pihak Polda Jambi pada tanggal 19 Juni 2026 lalu,” ujar Ali.
Akan tetapi, pada audiensi tersebut para penyidik yang menangani kasus kematian Dedi Putra yang seharusnya hadir malah tidak muncul di ruangan audiensi.
“Alasannya ambigu, para penyidik sedang berada diluar tanpa ada kepastian, diluar mana?” kata Ali.
Akhirnya mereka dipertemukan dengan AKP Faishal selaku Kanit 1 Wasidik Polda Jambi.
“Akan tetapi, sebab AKP Faishal bukan yang menangani kasus tersebut, ia pun tidak bisa menyampaikan banyak hal,” ungkapnya.
Senada dengan hal itu, Ketua Koalisi Rakyat Tertindas (KARAT) Yoggy Sikumbang meminta dengan tegas kepada Kepolisian Daerah (Polda) Jambi agar mengusut kasus ini secara jelas.
“Jangan sampai ada upaya untuk membuat pelapor lelah dan akhirnya tidak melanjutkan perjuangannya. Kami meminta dengan tegas kepada Polda Jambi agar mengusut kasus ini secara terang benderang. Siapa pelakunya, apa motifnya dan siapa saja yang terlibat,” tegas Yoggy. (Aas)





Tinggalkan Balasan