TANYAFAKTA.COTelinga yang sering mengeluarkan cairan—baik bening, keruh, maupun berbau—dikenal dalam istilah medis sebagai otorrhea. Meskipun kadang dianggap sepele, kondisi ini bisa menjadi gejala dari gangguan serius pada telinga, terutama jika terjadi terus-menerus atau disertai rasa nyeri, gangguan pendengaran, atau demam. Cairan yang keluar bisa berasal dari saluran telinga luar, tengah, atau bahkan dari dalam jika gendang telinga pecah.

Penyebab Umum Telinga Berair

Salah satu penyebab paling umum telinga berair adalah infeksi telinga tengah (otitis media), terutama pada anak-anak. Ketika terjadi peradangan, tekanan dalam telinga bisa meningkat hingga menyebabkan gendang telinga robek, lalu cairan keluar sebagai bentuk pelepasan tekanan. Selain itu, infeksi saluran telinga luar (otitis eksterna), yang sering dialami oleh perenang atau orang yang terlalu sering membersihkan telinga dengan cotton bud, juga bisa memicu keluarnya cairan, terutama jika terjadi luka atau iritasi.

Baca juga:  Mandi yang Benar Dimulai dari Kaki: Ini Manfaatnya untuk Tubuh

Dalam beberapa kasus, telinga yang terus mengeluarkan cairan bisa menjadi tanda adanya kolesteatoma, yaitu pertumbuhan jaringan abnormal di dalam telinga tengah yang bersifat invasif dan merusak. Kolesteatoma tidak hanya menyebabkan cairan berbau busuk, tetapi juga bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen jika tidak segera ditangani.

Cairan Seperti Apa yang Perlu Diwaspadai?

Cairan bening mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi jika disertai dengan sakit kepala hebat atau riwayat cedera kepala, bisa menjadi tanda kebocoran cairan serebrospinal—kondisi langka tapi serius. Sementara cairan yang keruh, kuning kehijauan, atau berdarah biasanya menandakan infeksi. Apalagi jika disertai bau menyengat, sebaiknya segera periksakan ke dokter THT.

Dampak Jangka Panjang Bila Dibiarkan

Telinga yang dibiarkan terus berair tanpa penanganan bisa menyebabkan gangguan pendengaran, baik sementara maupun permanen. Infeksi kronis bisa merusak struktur pendengaran, bahkan menyebar ke bagian tubuh lain seperti tulang di sekitar telinga atau otak. Selain itu, kondisi ini bisa memengaruhi kualitas hidup—menimbulkan rasa malu, gatal berkepanjangan, atau rasa tidak nyaman saat tidur.

Baca juga:  Bintik Hitam di Mata: Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan

Pengobatan dan Pencegahan

Penanganan tergantung dari penyebabnya. Untuk infeksi ringan, dokter biasanya akan memberikan tetes telinga antibiotik atau antijamur. Jika infeksi melibatkan bagian tengah telinga atau jika terjadi robekan gendang telinga, antibiotik oral mungkin dibutuhkan. Pada kasus yang lebih parah seperti kolesteatoma, tindakan bedah menjadi pilihan utama.

Untuk mencegah telinga sering berair, penting untuk menjaga kebersihan telinga tanpa berlebihan. Hindari memasukkan benda asing, termasuk cotton bud, terlalu dalam. Setelah berenang atau mandi, keringkan telinga dengan lembut menggunakan handuk bersih. Jika Anda memiliki riwayat infeksi telinga berulang, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk tindakan pencegahan jangka panjang. mengatasinya sebelum telinga Anda semakin terganggu.

Baca juga:  Pepaya, Buah Tropis Kaya Manfaat untuk Kesehatan Tubuh